101 of 258

Lirik lagu yang tercetus di Gd. Sapta Pesona 31 Des 13

Nest of black out dream
Insecure wound that never heal
And never never pick my speed
Rise have set as its anthonym

Oh my aichmophobia get perfect chance
My existence out of standard room
Sometimes people call me as secondary slave

This's story about another side
Hidden side someone like mendelevium
Where have no street nor extrovert

(Concecutive) 9th PAB

Pada duduk-duduk kecapean menikmati beban hidup :p

Keliatannya keren, padahal ini aslinya kamera diputar 90derajat

Sehabis game dinamika kelompok 
(kalian jangan mau diadu ama panitia de...kalian harus bersatunya melawan mereka #apasih)

May be that would be my "sugeng tindak" night 

Udah mau pulang malah main UNO wkwkwk

Ini didikan siape? Kaderisasi koplak =_=


Review Tenggelamnya Kapal Van der Wijck

Menjelang pulang ke Tegal beberapa hari lalu, agak gusar dan jemu juga dengan suasana kantor. Alhasil info penayangan perdana film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck menjadi "pelampiasan" yang menantang, kenapa menantang? Alasannya simpel, budget "have fun session saya bulan Desember sudah dialokasikan untuk nonton Grand KLakustik, alhasil, saya harus ikhlas mengurangi jatah makan keesokan harinya.

Tenggelamnya Kapal Van der Wijck merupakan novel yang pertama kalinya saya baca hingga tuntas, tepatnya di tahun 2003 kala masih di bangku SMP kelas 2. Gara-gara Bu Sri, guru B. Indonesia mengajak beberes perpus, dan dari situlah saya penasaran dengan novel itu, tentunya tanpa feeling bakal diangkat ke layar lebar. 

Sebelumnya, saya sudah membaca sebuah komentar seorang dosen tentang poster film ini yang agak "keterlaluan". Saya sepakat dan pada kenyataan, ada beberapa bagian di film itu yang rasa-rasanya kurang sreg. Hehee, mungkin saya terlalu idealis :) Durasi filmnya pun cadas nian, nyaris 2 jam 45 menit, artinya hampir menyaingi durasi dua pertandingan sepak bola. Itu saja ada beberap bagian yang "terpaksa" dipersingkat adegannya. Yaps, novel aslinya memang banyak mengulas hal yang sifatnya teknis nan detail, maka tantangan yang sulit ketika harus mengonversi tulisan ke dalam gerak audio-visual.

Pembukaan film ini lumayan menggelegar dimana logat Bugis yang dilontarkan Zainuddin sangat kental. Dengan penuh keberanian ditambah ketidakpastian, Zainuddin meminta izin ke neneknya agar direstui untuk mencari ilmu agama sekaligus menyambung silaturahim dengan keluarga ayahnya di tanah Minang. Sang nenek sampai menangis karena memang tempat yang dituju Zainuddin belum ada kepastian keramahannya bagi orang baru macam dia. Zainuddin sendiri tidak banyak macam dimana hanya mengambil uang bekal secukupnya walau jumlah 1000 gulden itu haknya, sisa dari bekal (yang sangat sedikit itu) diserahkan sepenuhnya kepada si nenek. Sungguh nilai moral yang menyentuh. Di ranah Minang, dari awal saya sudah terbius keelokan alamnya (btw itu setting-nya beneran di Sumbar ga sih?). Budaya Islam yang kental di ranah Minang tergambar di sini. Belajar mengaji di surau-surau, diskusi tentang akidah ramai diterapkan, pokoknya membuat nyamanlah bagi mereka yang haus tentang kebutuhan rohani.

Pergolakan batin sebagai penonton mulai muncul ketika konflik mulai menyeruak di film itu. Pertama ketika Hayati melepas kerudungnya dan menyerahkannya untuk Zainuddin, agak terkesan melepas aurat, well bagi saya kenapa nggak Hayati mengenakan dua lapis kerudung, itu lebih fair *opini pribadi*. Penggambaran budaya Minang di situ pas bagian si pemangku adat menyudutkan latar belakang Zainuddin pun agaknya terlalu keras, bagi yang mencerna setengah-setengah, bisa jadi malah berpikir budaya yang kolot dari Minang, padahal pada kasus tersebut, pilihan yang diambil lebih ke arah keputusan individu. Ketika Zainuddin telah menjadi orang sukses, gambaran kehidupan yang disajikan pun agaknya kurang sreg *bagi saya*, dia lebih menikmati berbusana glamor, begitu pula pesta anak rantau yang digelarnya cenderung kebarat-baratan. 

Namun, banyak poin positif yang dipetik dari film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, antara lain :

  • Persahabatan si Muluk dengan Zainuddin. Muluk (saat membaca novelnya pas sudah SMA, saya terbayang sosok Rio D. Finanda) walau background-nya parewa/preman, tapi ketika Zainuddin terpuruk, justru yang diberikan adalah nasihat-nasihat positif yang sangat membangun, bukan malah ajakan untuk berbuat gegabah. Solidaritas Muluk ini berbuah manis ketika di kemudian hari, Muluk mampu menanggalkan baju parewanya dan mendalami agama. Ucapan "in sya Allah" yang dilontarkannya saat melepas Hayati di pelabuhan jadi bukti bahwa Muluk telah move on dari dunia berandal
  • Keberanian merantau ala Zainunddin patut diacungi jempol. Walau tidak ada kepastian bagaimana kerabatnya yang di Minang akan menyambut, dia tetap memberanikan diri untuk pergi ke sana sekaligus mendalami agama. Begitu pula saat bertolak ke Jakarta dimana hendak bekerja sebagai apa pun dia belum bisa memastikannya. Tantangan mengembangkan surat kabar di Surabaya pun disanggupinya walau dia minim (atau bahkan tidak punya) pengalaman memimpin
  • Ketika ada undangan dari perkumpulan anak rantau Andalas, Zainuddin menyanggupinya, dia tidak lupa pada asalnya walau di tanah Sumatera dia terlunta-lunta. Bahkan dia mempersilahkan rumahnya sebagai lokasi pertemuan tersebut. 
Konflik batin di film tersebut berpuncak pada "pengusiran" Hayati oleh Zainuddin yang tidak dapat dipungkiri berlatar belakang sakit hati atas insiden penolakan pinangan terdahulu. Pemilihan kata di adegan terus terang sangat tajam dan keras (tapi tidak kasar). 

Akhir kata, film ini sangat direkomendasikan bagi pecinta sastra dan juga penikmat film Indonesia.



Yuk Jauhi Debat


Pertama kali lihat karikatur ini langsung terpasang kalimat "Ini dia"
Yaps...
Belakangan marak debat-debat (maaf) tidak bermutu. Tidak bermutu di sini saya tinjau dengan prioritas utama bagaimana cara memperlakukan orang lain yang menjadi pihak yang berkomunikasi dengannya.

Motif debat macam ini lumayan beragam, tempo hari tema yang diumbar adalah boleh tidaknya mengucapkan natal, OK, sebentar lagi tema akan bergeser pada hukum merayakan tahun baru, atau malah hukum merayakan maulid Nabi Muhammad.

Well, tiap orang mempunyai pendirian dalam menyikapinya. Pendirian di sini bukan hanya pro ataukah bersikap kontra, melainkan cara saya mengutarakan pendirian tersebut. Salah satu prinsip yang paling harus dihindari adalah mendebat karena ketika kita sudah terpancing (atau bahkan memancing) debat, maka ukhuwah sudah menjadi barang taruhan yang kemungkinan besar akan lenyap dari hati. Kemenangan akan jadi tujuan, naasnya kemenangan itu hanya meliputi perasaan unggul berargumentasi di social media. 

Padahal di saat yang sama, mereka musuh Islam sedang asik menikmati popcorn (at least jagung bakar) menonton debat internal kaum muslim.

Padahal di saat yang sama, saudara-saudara satu agama kita justru menjadi hilang simpati lantaran alergi dengan berbagai susunan kata berkiasan tinggi yang biasa diumbar dalam debat

Menerima vs Memperbaiki

Dalam interaksi manusia, kebermanfaatan merupakan sebuah tuntutan sekaligus tuntunan. Tidak ada yang sama, begitupun segala kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya.

Bisa menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing itu merupakan hal yang baik. Butuh sikap berlapang dada karena bukan tidak mungkin konflik yang timbul dalam sebuah tim berhulu pada segala macam perbedaan.

Karena itulah, menerima tidak cukup. Menerima hanya bersifat FYI alias cukup tahu. Jika demikian perbedaan konsep ataupun segala fitur plus minusnya karakter tidak akan pernah ada perubahan. Apabila input kualitasnya sama dengan output, bukankah itu berarti "rugi". Lantas bagaimana caranya agar termasuk yang "beruntung"?

Jadilah pelaku yang mampu dan mau memberikan perubahan yang positif, yang bisa memperbaiki, dan tentunya orientasi pada Illahi, bukan pujian ataupun sanjungan.

Semarang di Penghujung 2013

Kota Semarang, ternyata di penghujung 2013 berkesempatan mengunjungi kembali kota ini. Kota yang ternyata secara konsekutif (nyaris) terkunjungi dari 2007 hingga 2013 (hanya alfa satu kali di 2009). Banyak kisah menarik yang langsung mengitari imajinasi tatkala melihat satu per satu jalanan yang dilalui. Perempatan Kalibanteng dengan kenangan KP di Bandara Ahmad Yani plus insiden kening robek. Belanja bandeng sekeluarga langsung terngiang saat memutari jalanan Pandanaran. Tak lupa memori heroik di Jalan Pemuda ketika seorang bocah lugu nyaris tidur di masjid dan kantor/pos polisi lantaran tidak punya tempat nginap saat mengikuti seleksi SMBB Telkom.

Ah, rasanya seperenam hari tidaklah cukup untuk memuaskan dahaga kerinduan pada kota spesial ini. Ironi juga hampir tiap tahun ke Semarang plus KP 1,5 bulan tapi tidak pernah piknik ke Lawangsewu. Namun diri ini membayangkan jika sendirian mengitari Kota Semarang, 'apa yang hendak kulakukan?', atau lebih tepatnya 'siapa yang hendak kukunjungi?'. Kawan SMA yang berkuliah di sini satu per satu telah lulus entah berserakan dimana, termasuk kawan karibku di Poltekkes Kemenkes yang jadi temapt wajib diziarahi (maksudnya dikunjungi).

Bolehlah semua orang mempunyai memori yang standar maupun unik tatkala melintasi Kota Semarang, bahkan mungkin mendengar/membaca nama kota ini pun langsung terseret ke berbagai nostalgia. Begitu pula saya...

Semarang ... tempat menjemput prestasi membangun kepercayaan diri
Semarang ... tempat merajut lagi potensi membongkar minder di hati
Semarang ... panasnya kota ini kadang bikin gerah, tapi ada kehangat memori tentang kebersamaan, tentang kekerabatan, dan tentang indahnya silaturahim

Hotel Pandanaran, Kota Semarang, 

Review Kamen Rider Gaim

Isi harddisk adik saya sangat menggoda. Stok film-film Kamen Rider-nya wiwwww. Salah satu diantara stok terbaru di harddisk-nya adalah KR Gaim. Ada beberapa poin yang menarik dari KR jilid ini.




  1. Kalau dengar tema jagoannya adalah buah-buaha tentu terbayang jagoan yang feminim dan sangat childish. Bayangin aja Mango-man berantem lawan Peanut-man.. o_O Apalagi di berbagai KR sebelumnya tema yang dipakai adalah otomotif, kartu remi, robot, mitologi, detektif, hantu, ya intinya garang nan macho. Tapiiii... Dengan penuh kecerdasan, Kamen Rider buah-buahan ini mampu mempertahankan aksi-aksi heroiknya. Titik balik terletak pada saat henshin. Muncul buah di atas lakonnya, namun tiba-tiba buah itu berubah mnjadi "sparepart' baju zirah prajurit legendaris. Ada yang mirip samurai, ada juga yang mirip tentara anglo-saxon. Elegan pisanlah...
  2. Bukan rahasia bahwa film KR dikritik karena kerap menampilkan adegan pembunuhan yang dilakukan oleh monster, termasuk insiden 'darah' di KR Blade. Nah di KR Gaim (at least hingga episode 11) tidak ada adegan pembunuhan. Teknik berantem pun tidak lagi kasar.
  3. Grafis animasi plus dekorasinya rapi nan menawan. Perbedaan animasi dengan background asli pun lebih halus.
  4. Sejak KR Ryuki, tiap jilid KR selalu memunculkan KR pendamping. Agaknya kasihan juga jika lakonnya forever alone. Menariknya 4 kamen rider utama di situ juga mempunyai rivalitas. Bahkan ketika opening show agak mirip KR Blade walau nuansanya cerah riang.
  5. Koreografi yang disuguhkan sejak episode pertama sudah menggugah kenyamanan memandang. Dengan dibalut rivalitas berbagai dancer team untuk meraih ranking, muncullah berbagai atraksi tarian rancak bana
  6. Busana yang dikenakan tokoh-tokohnya enak disawang. Elegan, trendy namun tidak norak. Ah, pokoknya anak muda bangetlah
  7. Agaknya lakon penuh banyolan macam KR Den-O jadi bukti bahwa penonton juga menyukai karakter kocak. Di episode 2 saja sudah disuguhi si aktor semalaman galau di kamar nentuin pose henshin yang gahol. 
  8. Pesan moral yang diumbar di berbagai episodenya sangat inspiratif. Sisi humanis sangat ditonjolkan. Yapss.. Caranya memberi pesan positif tidak melulu dengan orasi di mimbar ternyata

Jadi penasaran ending-nya gimana..dan yang lebih utama, kejutan kreatif apalagi yang bakal diberondongkan ke penonton??

Sebuah sore di aulaSmansawi...

3 tahun mengenakan atribut itu, baik dalam rupa seragam OSIS (yg MPK jangan complaint gara2 ga ada seragam MPK), Ambalan Gama-Nasa, KIR. Rasanya kalau ditanya momen yang spesial agaknya bakal dijawab "semua punya kespesialan masing-masing". Salah satunya sebuah sore di aula Smansa H-1 TKPP V GSKB.

H-1 menuju kompetisi yang hampir penuh ketidakpastian. Yang sudah pasti adalah subdisi dari dana kesiswaan 700ribu (berbekal proposal 5 lembar plus negosiasi ala kapten arief). Hampir semua cabang kondisinya absurd. Tidal ada sama sekali pemetaan kekuatan rival. Standar kualitas yang harus dcapai pun berpatokan pada kengawang-ngawangan. Itu kalau bicara peluang menang. Kalau ngaca pada kesiapan tim, adauhhh. GT alias gladi tangguh yang harusnya disiapkan dengan training alias pengasahan fisik dari H-14hari tidak ada sama sekali. Bahkan sejak H-5an, anggota tim di cabang GT justru sibuk umbrus hingga larut sore. Namun di suatu hari, kita menyadari bahwa kekurangbugaran fisik berhasil ditutupi dengan kekompakan yang agaknya dibangun dari keseringan umbrus hingga sore. Hasta karya putri saya sendiri kurang memantau, sedang hasta karya putra sore ini sedang diskusi tentang kecantikan desain kerajinan yang dibuat. Ada kabel, ada tutup botol, ah pokoknya riweuhlah. LCT agaknya aman karena bisa dibilang 3 putra dan 3 putri uang diturunkan adalah orang-orang yang memang tekpram-nya paling cadas. Drama lagaknya sih masih kurang penjiwaannya plus script masih lupa.

Nah karya tulis gimana?


Kalau si Rani sih udah meyakinkan. Pokoknya asal presentasinya lancar plus simulatornya jalan, optimislah. Nah..saya? Apa yang ditulis udah salah, harusnya alat eh malah saya mengulas metode. Intinya agak menyompang dari ruang lingkup. Presentasi pun belum pernah latihan. Mau.dibawa kemana coba?



Sore itu menyisakan 4 orang, saya, Arief, Aufa, dan Hedi. Aufa dan Hedi masih sibuk dengan hastakaryanya. Sedangkan saya dan Arief lebih memilih kesiapan dari berbagai aspek, walau 60%an waltu diskusi diisi dengan bercanda. Pancaran mata kala itu tidak bisa dikuasai oleh optimisme. Beban meraih juara umum untuk ketigakalinya jelas jadi tanggungan.

Pelajaran yang terpetik dari sore itu adalah keberanian memilih. Dibandingkan memilih kesiapan teknis, saya dan tim lebih mengasah kesiapaental yang rileks plus kekompakan. Memang ini berujung pada kebingungan mencari ini itu *koplak bau nyari kendaraan di injury time*
Tapi...romantisme perjuangan itu...undescriptable..

29 Desember 2013

Dini hari menjelang jam 1. Si bocah terbangun dan langsung teringat akan sebuah hal. Samsul, begitu nama hp-nya menjadi sarana untuk mengulik sebuah info, tentang rekruitasi pendidikan magister di sebuah perguruan tinggi di Jawa Barat bagian utara. Agak tidak percaya diri si bocah itu sebelumnya. Alasannya jelas, dua sesi ujian tulis dilalui sambil tidur.

Alhdulillah Allah memberi jalan. Rekruitasi dilalui dengan hasil sesuai ekspektasi.

Magister, kesempatan ini tanpa basa basi langsung menyertakan klausul yang lumayan berat, yaitu terkait biaya studi. Hal ini telah disadari sebelumnya dimana si.bocah berencana mengikuti seleksi beasiswa pasca-pengumuman itu. Tapi faktor salah info turut mewarnai kegundahan, ternyata pembayaran.biaya studi dilakukan bulan depan, bukan pertengahan tahun depan sebagaimana lazimnya jalur rekruitasi magister.

Well, semoga ada jalan terbaik yang diliputi semangat ikhlas :)

Kelas 6 om

"Kelas 6 om.." itulah jawaban singkat si belia itu ketoka sudah kelas berapa olehku. Awalnya kurang percaya bahwa anak itu adalah "dia"...ya dialah Sheva, sosok yang sudah tidak aku temui kurang lebih 3 tahun. Sosok yang riang nan jadi "orang kelima" dalam tiap percakapan hangat saya, Andy, Ina, dan Lana ketika nyaris tiap Minggu kami (ceritanya) belajar kelompok menjelang UN 2005. Kala itu dia (kayaknya) baru berusia 1-3 tahun. Tiap omnya, And menyetel lagu-lagu barat pasti diikuti dengan erangan-erangan Sheva yang ingin turut menyanyikannya. Ajaib memang karena dia lebih peka terhadap nada-nada lagu barat di usia sebelia itu. Tapi kelucuannya itu lho... Ngegemesin pisan...

Agak kaget juga menyaksikan dia udah beranjak sejauh ini namun masih ingat saya. Bahkan dia tidak canggung mrngajak ngobrol saya, hehee ternyata dia penggemar kamen rider juga nih

Sheva...semoga jadi anak yang berbakti pada Mas Bram dan Mba Ning

Belajar dari Buah Mangga

Sukakah mas/mba dengan buah mangga? Buah yang enaknya masyaAllah enak. Ada apa dengan kesenangan kita akan buah mangga ini?

Kesenangan akan buah mangga ini jadi analogi kesenangan terhadap organisasi buatan manusia. Organisasi buatan manusia manapun pasti ada kekurangannya, baik karena faktor kesalahan unik ala individu tertentu maupun terkait sistem yang dibangun.

Tatkala senang dengan buah mangga tidak berarti kulit dan pelok (biji) si mangga dimakan juga. Kita tahu mana yang bisa dimakan mana yang tidak. Bahkan jika kita cerdas, biji mangga itu kita tanam untuk mendapat mangga-mangga baru di kemudian hari, tentunya butuh waktu tidak sekejap.

Begitupun kita yang harus cerdas menyeleksi hal-hal positif pada organisasi yang patut diserap. Seleksi pula hal-hal yang negatif. Dan pastinya berpikir tentang keberlangsungan organisasi ini di masa datang.

Ketika senang buah mngga tidak berarti kita boleh sombong dari orang yang tidak suka mangga. Apa manfaatnya sih? Idem pula ketik fanatik terhadap suatu organisasi jangan menghinakan organisasi lain

Mengkreatifkan Bentuk Dakwah

Pagi ini sebuah informasi di-share seorang kakak kelas sekaligus dosen di (mantan) kampus saya. Isinya tentang salah satu topik dalam ber-tajwid, yaitu wakaf alias tanpa berhenti. Berikut gambarnya


Sepintas apa yang dibuat sederhana, tapi bagi saya itu merupakan bentuk kecerdasan dalam dakwah. Kecerdasan yang kreatif. Kreatif yang sederhana. Dan tentunya kesederhanaan yang bermanfaat :)

for a reason to exist

December 18th 12.00...
The kick that people called it "mawashi geri" was hit to me...
May be this's command to learn about responsibility as elder brother...
My young brother have to face rontgen scanning for his lung and there's unusually thing...
His daily must be spent on the road via city bus for 2 hours everyday...
And his rapid activity as busy student may be give contribution to his ill...

Now... I just can pray he will get better soon...
I must go home in this Friday and give my best support for him...for a reason to exist in this way...family

Work of Heaven

Allah berfirman dalam Al Qur'an : Surat Ar-Ra'd [13]: 21
"dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan (yaitu mengadakan silaturahim dan tali persaudaraan) , dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.


Foto ini diambil 3,5 tahun lalu di Pedurungan, Kota Semarang.
Ada yang spesial di foto ini
Bukan karena objek di dalam image-nya melainkan proses pengambilannya.
Well, apapun itu... pekan-pekan ini saya belajar banyak tentang keikhlasan dari kawan di samping saya ini
Bagaimana memprioritaskan hidup dan mengambil keputusan yang terbaik :)

Review 99 Cahaya di Langit Eropa

Recommended...
Itu testimoni dari saya, ive, 28 tahun, pendukung timnas Turki di Euro2008*opo hubungane?
Film 99 Cahaya di Langit Eropa belakangan jadi buah ketikan kawan-kawan di socmed. Penasaran juga dengan versi audiovisual asil konversi novel dengan judul sama karyq Hanum S. Rais dan suaminya, Rangga. Ya tapi saya lebih penasaran kecukupan uang di dompet dimana anggaran "keluyuran" bulan ini sudah direlokasi ke bulan lalu utk program nonton Grand KLakustik. Nah untungnya pas..ya ngepas banget #garuk2 tanah

Backtotopic
Kebanggaan ber-Islam...
Itu kesan yg saya tangkap sebagai garis besar film ini. Fakta sebagai minoritas di tengah peradaban Eropa memang jadi tantangan umat muslim. Bahkan, bagi penganut Kristen yg taat pun, mereka perlahan mulai merasa tampil sebagai minoritas di Eropa, kenapa? Norma agamanya orang Kristen saja mulai dianggap usang dan kolot, padahal penganut Kristen secara jumlah mayoritas. Lha muslim di Eropa bagaimana? Film ini mengupasnya :)



Toleransi beragama merupakan hal yang manis di teori tapi pahit di realiti. Cermin di film ini tergambar pada dilema yang dialami Rangga ketika memilih antara ujian vs sholat Jumat. Begitupun Fatma yang sulit mencari kerja karena mengenakan jilbab. Putrinya, Ayse, malah jadi komoditas ledekan temannya di sekolah. Nah... Pertanyaannya kita umat muslim yang di sini (kalo baca statistik sih mayoritas sebagai penghuni NKRI) pernah menjamin kenyamanan dan ketidakdiskriminasian orang-orang non-Islam ga?
Kalau di sini kita malah menyebarkan paham anti-Semit, anti-Tionghoa, anti-Nasrani, dan anti-anti lain yang tidak sesuai dg definisi Islam sbg rahmat bagi semesta, maka mari perbaiki sikap kita dulu.

Membuat film yang diadopsi dari novel (apalgi yg terlanjur populer) memang susah karena qkan dibanding-bandingkan. Celakanya nih kalau ada yang beda dikit bisa jadi topik kritikan. Ambil contoh tokoh Ayse yang di novel masih balita tapi di situ udah SD. Tentu itu bukan tanpa tujuan. Saya lebih melihat itu sebagai upaya mendeskripsikan tantangan muslimah yang mengalami tekanan batin tatkal mempertahankan identitas Islamnya di tengah sentimen terhadap Islam.

Pemakaian bahasa di film ini juga unik dimana beberpa karakter luar negeri (btw pemerannya orang luar bukan y?) yang berbahasa Indonesia. Penggunaan bahasa sudah tentu jadi tantangan untuk memberi gambaran apa yang sebenarnya ditemui Hanum dan Rangga pada dunia nyata di sana. Alhasil beberapa keanehan sempat muncul terkait alur seperti "insiden" roti Croissant, perkenalan kelas bahasa Jerman. Tapi namanya juga film, ga ada yang sempurnalah hehee.

Kalau ditanya bagian mana yang paling berkesan, bagi saya terkait lobi si Rangga ke dosen terkait dispensasi ujian karena mau Jumat-an. Kenapa??

1. Ujian orientasi, si dosen meminta Rangga menjaga reputasi si dosen dgn tidak membolos karena Rangga sedang dipromosikan meraih beasiswa. Wah kalau kepleset niatnya dengan mencari nama baik di hadapan manusia bisa muncul bugs syirik.

2. Argumen dosen yang menyinggung ke-Maha Pengasih-an dan ke-Maha Penyayang-an Allah sehingga pasti dimaafkan kalau bolos sholat Jumat. Sepintas terkesan meremehkan Allah. Nah.... Pertanyaannya apakah kita juga pernah meremehkan Allah dengan "metode" yang sama? Udah injury time tapi masih aja menunda sholat.

3. Sikap Khan yang tidak mengintimidasi Rangga ketika beda sikap dalam mengambil keputusan. Agaknya sikap seperti di sini bisa jadi sudah dimuseumkan. Kenapa? Beda haluan partai dihujat, beda tanggal lebaran disindir, beda rokaat Tarawih diledek dsb.

Kalau ditanya bagian menarik lainnya apa? Sebagai pemerhati kuliner, tentu tempat makan bertajuk All can You Eat itu jawabannya. Ko bisa y ada macam itu?

Nah... Pertanyaan buat kita (terutama saya) pelajaran yang dipetik ini mau dikemanakan? Cuma jadi ocehan di blog-kah? Atau bisa jadi bahan instrospeksi diri?
Ayo perbaiki diri...
Perbaiki dan perbaiki...
Hingga usia ini habis dengan status hamba-Nya yang taat :)

Great Collaboration with Pakar10

Bukan hal yang mudah ketika dua tim bekerja sama, apalagi background dan cara pandangnya berbeda

Ujar-ujar itu memang tepat. Tim IK dengan budaya yang memang berbeda dengan Pakar10. Tapi tidak menutup kemungkinan untuk bekerja sama dalam berkreasi di sebuah aplikasi berbasis website, yaitu Portal Indonesia Kreatif. Kerja sama yang telah dimulai dari September ini mengalami klimaksnya di bulan Oktober dan November.

Desain website...
Pilih subdomain atau subdirectory??
Hosting di telkom collocation...
Install centOS...
Install ngeINX plus cPanel...
dan pastinya coding dan debugging...



MasyaAllah, secara objektif semua ini melelahkan...
Tapi bukankah yang dinilai Allah itu bukan tingkat kelelahan? Tapi kedalaman hati untuk bersikap ikhlas

Konflik bukan hal yang bisa disangkal. Terselip beberapa kali benturan persepsi yang agak hangat, tapi faktor "gemar bercanda" menjadi obat penetral.

Terima kasih kawan-kawan di Pakar10

Inspirasi dari Komandan Sawahlunto, Bantaeng, dan Pekalongan

Buka-buka arsip di HP nemu sebuah foto yang mengingatkan saya pada suasana H-1 launching Portal Indonesia Kreatif di Epicentrum Walk.



Suasana di media center PPKI 30 November siang itu agak ramai walau di luar rinai hjan lebih ramai, tapi saya dengna style cuek khas programmer. Menoleh ke kanan ada seorang bapak yang wajahnya membuat saya berpikir "kayak pernah lihat dimana gituuuu". Selang lima menit terjawablah pertanyaan saya. Ternyata si bapak itu adalah pengisi materi Press Conference di sesi siang tersebut. Dia tidak tampil sendiri, melainkan bertiga dengna dua orang bapak lainnya. Si bapak yang membuat saya deja vu adalah  dr HM Basyir Ahmad, walikota Pekalongan. Pekalongan? Pantas saja, pengalaman tinggal di Pekalongan 1,5 bulan di 2010 agaknya cukup membuat dia lumayan familiar di memori saya hehee. Sedangkan dua lainnya adalah Amran Nur, walikota Sawahlunto, Sumatera Barat, dan HM Nurdin Abdullah, bupati Bantaen, Sulawesi Selatan. Ketiganya memaparkan tentang kiat-kita membangun daerah mereka dengna kreatif. Terus terang mereka komandan yang luar biasa visionernya dengan kejelian memanfaatkan kondisi masing-masing. 

Bapak Amran harus menyaksikan Sawahlunto tengah limbung lantaran pertambangan sebagai industri utama di sana tengah menukik. Bapak Basyir Ahmad menyampaikan bagaimana dia membangun kekuatan industri batik yang diawali kebimbangan memilih ikon kota antara batik dengna perikanan. Bapak Nurdin Abdullah malah pusing dengan banjir di Bantaeng yang rutin. Tapi ketiganya tidak menyerah dan mau berjuang selama bertahun-tahun.

Sawahlunto kini tumbuh kembali sebagai salah satu kota progresif di Sumatera Barat dengna komoditas unggulannya cokelat. Pekalongan mampu tampil sebagai pioner industri batik kerakyatan di Indonesia. Dan Bantaen saat ini muncul sebagai  destinasi wisata bahari di Sulawesi Selatan. Menariknya masing-masing punya trik untuk menjaga perekonomian rakyat.

Bapak Amran mengedepankan masyarakat Sawahlunto sebagai aktor lokal dengan bersifat selektif terhadap investor yang masuk agar kekuatan ekonomi kerakyatan tetap terjaga. Begitupun Bapak Basyir yang memprioritaskan warga lokal sebagai pengisi-pengisi area penjualan batik di Kota Pekalongan. Hal senada pun dijalankan oleh Bapak Nurdin yang menyediakan berbagai lahan untuk masyarakat lokal sebagai pedagang di kawasan wisata bahari di Bantaeng.

Usaha untuk memprioritaskan warga lokal sepintas menggiurkan, tapi ini tidak mudah. Pasti akan muncul berbagai situasi yang rumit, misalnya kekecewaan terdiskriminasi bagi warga pendatang/asing, kesadaran warga lokal yang belum terjamin, atau mungkin juga kesempatan ber-KKN bagi aparat yang nakal. Tapi mereka bisa menguraikan gagasan-gasan untuk memihak masyarakat lokal sebagai aktor perekonomian di daerah mereka sendiri dengan sabar.

Sabar... konsisten... kreatif... tiga hal itu saya tangkap sebagai faktor pembeda kesuksesan mereka (yang jarang diekspos media) dibandingkan "kebelumsuksesan" komandan daerah lain. Tiga hal yang kontradiktif dengan budaya saat ini, yaitu instan -_-"



And Passion was+is+willbe My Reason

Pekan lalu kegiatan Makrab (Malam Keakraban) Karate Telkom (peleburan IT Telkom Karate Club, UKM Karate Politeknik Telkom, IM Telkom) diadakan di Cibeunying, Kabupaten Bandung Barat (tapi perjalanan kita malah ke Utara hehee). Sebuah sesi menjadi kesempatan saya untuk survey, tidak hanya buat saya pribadi tapi untuk UKM ini, yaitu alasan memilih Karate sebagai UKM.

Jawabannya beragam, ada yang ingin belajar bela diri, ada yang ingin melanjutkan Karate dari jenjang akademik sebelumnya, ada yang bureng (absurd T_T) dan macam-macam. Mungkin ketika saya ditanya balik pun perlu waktu untuk menyusun kata, ceileh berasa mau sidang skripsi aja :p

Karate (dan Pramuka tentunya) menjadi kegiatan yang melengkapi (tapi bukan pelengkap) aktivitas saya selama menekuni dunia akademik sejak SMP. Bahkan ada rasa aneh ketika di awal kuliah tidak ada dua kegiatan itu sebagai UKM. Tapi Allah menggariskan suatu ketentuan dimana saya bisa ikut dalam pendirian Racana hingga resmi menjadi UKM resmi di IT Telkom. Untuk Karate sempat hadir di masa-masa awal, namun dikarenakan satu dan lain hal saya vakum hingga akhir 2011. Di akhir 2011 saya memulai kembali alias RESTART dimana gerakan saya kaku dan sangat memprihatikan :/ Tapi dukungan yang laur biasa dari Sensei, Senpai, dan Kohai menjadi alasan untuk survive. 

Namun apabila ditanya kenapa saya masih menggandrungi Karate maka jawaban saya adalah
Karate merupakan passion saya baik masa lalu, masa kini, maupun masa depan

Memang saya belum pernah berkesempatan mengikuti turnamen; baik di SMA maupun di kuliah saya tidak terlibat sama sekali di kepengurusan dan bahkan di masa klimaks ekskul/ormawa saya justru lebih aktif di tempat lain; memang semenjak ikut Karate saya justru lebih menjadi pendiam (nggak sepecicilan ketika belum ikut Karate); atau untuk jangka pendek, saya di Jakarta Selatan tanpa tegi dan tidak latihan rutin. Tapi, passion tetaplah passion.

Ketika IAIS alias Ikatan Alumni Inkai Smansawi membutuhkan bantuan saya maka in sya Allah semampunya saya berkontribusi
Ketika UKM Karate Telkom memerlukan hal serupa maka in sya Allah pula saya berkontribusi semampunya

Kenapa?
Karate passion saya
Di Karate saya mendapati "keluarga" yang mampu mengayomi :)

Dramatic, but Rule

2008 pasca laga pertama Rusia vs Ceko yang berkesudahan 4-1 tentu semua orang menjagokan Rusia lolos ke babak berikutnya, minimal sebagai runner up grup. Alasannya tentu tiga poin dan surplus tiga gol. Di laga kedua hasil imbang melawan Polandia 1-1 masih bisa disebut sebagai gangguan kecil. Urutan setelah laga kedua ini adalah Rusia (peringkat 1, poin 4), Ceko (2, 3), Polandia (3,2), dan Yunani (4,1). Tapi.... lantaran sebuah gol Karagounis di injury time babak pertama mengacaukan perkiraan semua orang. Yunani tanpa disangka mengangkangi ranking Rusia walau poin sama. Kenapa? Aturan di Euro 2012 memakai sistem head-to-head apabila ada tim poinnya sama. Lihat skor Yunani-Rusia? 1-0... Artinya Yunani "dianggap" unggul atas Rusia.


Salah satu aturan lazim yang juga terbit walau tidak berlaku di turnamen ini adalah selisih gol. Dan bicara selisih gol, tentu akan mengenaskan bagi Rusia yang masih surplus 1 gol. Kenapa? Yunani tidak punya tabungan selisih gol. Ceko? Mereka lolos dengan catatan gol defisit satu. Ada yang berani mengira mereka bakal lolos? Lebih gokil, adakah yang berani menebak mereka lolos sebagai juara grup dan Rusia tersingkir? =_="

Ingin yang lebih "ngeri"?


Lihat klasmen di atas pada grup F UCL musim ini. Ada tiga tim mengoleksi poin 12 dari hasil yang sama pula, yaitu 4 kali menang dan 2 kali kalah. Mereka hanya dibedakan selisih gol. Selisih gol, itulah yang "mendiskriminasikan" Napoli lantaran "cuma" punya tabungan gol 1 sedangkan Dortmund saldonya 5 dan Arsenal rekeningnya 3. Pemain-pemain Napoli boleh jadi makin galau di bawah kucuran shower ketika menengok tetangga mereka, Zenit, yang cuma bisa mengais 6 poin hasil satu kali menang plus tiga imbang. 

Okay, kita bandingkan Napoli vs Zenit,
Jumlah kemenangan Napoli 4, Zenit 1 sehingga Napoli 1-0 Zenit
Jumlah seri Napoli 0, Zenit 3, kalaupun seri dihitung maka Napoli 1-1 Zenit
Jumlah poin Napoli 12, Zenit 6, well, Napoli 2-1 Zenit
Selisih gol Napoli surplus 1, Zenit minus 4, so...Napoli 3-1 Zenit, malah jika seri diabaikan Napoli 3-0 Zenit.

Tapi.... klasmennya bersifat lokal di masing-masing grup. Maka dibandingkan dengan metode dan algoritma apapun, Napoli dikomparasikan dengan Dortmund, Arsenal, dan Marseille, sedangkan Zenit hitung-hitungannya ya dengan Atletico Madrid, Porto, dan Austria Wina. Ketentuan poin sama pun sudah ditetapkan mengacu ke selisih gol. Memang agak tragis bagi Napoli yang jumlah poin sama dengan dua tim yang lolos tapi dia tersingkir. Memang ironik bagi Napoli yang tidak lolos tapi di grup sebelah tim dengan poin setengahnya plus catatan golnya lebih buruk malah lolos. 

Dan di sinilah garis sportivitas bisa ditarik :)
Kelogowoan untuk menyikapi suatu "bencana" (bagi tim yang tersingkir, yaitu Rusia dan Napoli) untuk tidak seenaknya menyalahkan sistem, namun bisa memahami hakikat perjuangan. Tentu kurang bijak bila memaki-maki apa yang terjadi di laga terakhir. Oh andai saja hasilnya 0-0 imbang antara Yunani vs Rusia, tentu Rusia yang lolos, hmmm, andai saja gol injury time babak pertama itu tidak ada :/ Oh andai saja Napoli di laga terakhir bukan menang 2-0 tapi 3-0 atau malah 4-0, tentu mereka bakal mengangkangi Arsenal :/ 

Jangan pintar mengeluh di kesempatan terakhir. Kesuksesan itu dibangun dari masa depan :)

Custom Sidebar Plugin

Ketika mengerjakan sebuah website, ada kalanya kita harus terpana #eaa dengan desain yang dibuat mengharuskan kita menyediakan berbagai ruangan untuk konten dengan sifatnya statis (ada pada template) yang bersumber bukan dari entry posting-an. Tidak usah panik ataupun meraung-raung di bawah pancuran shower.

Ada plugin sederhana bernama Custom Sidebar yang sesuai namanya, dia meng-custom sidebar yang dapat diutak-atik lokasinya.

Mangga di-search di wordpress.org

Cara memakainya pun relatif sederhana.
Pertama, awali dengan bismillah lalu install sebagai menginstal plugin pada umumnya.

Kedua, klik Appreances, kemudian pilih Custom Sidebar, lalu buat sebagaimana petunjukk (lihat kotak dan tulisan oranye di bawah ini

New Template Page

Bingung mau post tentang apa?
OKey, sebenarnya akan post tentang review sebuah plugin sederhana yang lumayan enak untuk dipakai sebagai pengisi konten di WordPress. Tapi, sebelumnya ingin sedikit mengulik tentang caranya membuat template yang dipakai spesifik untuk suatu page tertentu.

Pertama copy-paste page.php di folder yang sama. Lakukan proses ini pada cPanel maupun FTP server. Misal kita beri nama page-about.php.

Kedua, sisipkan nama template untuk diidentifikasi sebagai jenis template. Penulisannya bagaimana? Perhatikan screenshot di bawah ini, ketikkan lima baris pertama tersebut.


Maka, ketika kawan-kawan akan membuat suatu page akan tersedia pilihan page tersebut dengan nama About Template.


Simpel banget kan?? heheee

Semestinya sih Biasa

Akhir tahun ternyata bisa bermakna akhir dari keterlibatan dalam tim.
Ibarat dalam sepakbola maka jendela transfer utk bermigrasi dibuka "lebih" lebar.

Awal November lalu sebuah poster rekruitasi network engineer agal mengagetkan. Yapzz sang network engineer bang Hendrik memutuskan tidak memperpanjang kontrak. Kawan ngebanyol, fans Barca, komplotan futsal dan tentunya rekan nge-IT itu brrpamitan via sebuah makan-makan pada Jumat berikutnya. Itulah kawan satu departemen saya

Di tengah gelaran PPKI di Epicentrum pun jadi lahan "kode pamit" mba Reni, Media Relation tim Indonesia Kreatif. Faktor passion menjadi alasan diplomatisnya. Memang diantara anak-anak IK, dia relatif kurang akrab dengan saya, tapi ga berarti hengkangnya biasa saja. Ketahanbantingan dia dalam melakoni peran sebagai MR sangatmenginspirasi. Itulah lawan satu tim proyek saya.

Kemudian ada seorang relanita namanya Zulfah entah nama lengkapnya. Sepintas orangnya cuek tapi ia tipikl observer yang kritis. Diskusi dengannya merupakan hal yang asyik. Ada-ada saja ide yang muncul darinya. Hal yang positif banyak saya petik sebagai kawan satu meja.

Resign...
Mau dimanapun juga itu hal yg wajar. Tak ada uang abadi di dunia keprofesian. Malah resign-nya saya pun tinggal menanti giliran, entah kapan :))

Grand KLakustik: indescribable Creativity [2]

kan berbagai kreativitas yang "KLa bangettt". Kolaborasi dengan berbagai musisi yang mampu menyuguhkan atraksi memukau. Lagu-lagu yang dibawakan pun merupakan "portofolio-portofolio" yang menunjukkan kelas mereka,


  • Laguku, Lilo berkolaborasi dengan ketiga orang backing vokal. Itulah konsep dasar lagu ini. Pergeseran atraksi penyumbang suara di sini menjadi kesempatan untuk unjuk gigi yang dimanfaatkan dengan baik (walau belum maksimal) oleh ketiga backing vokal tersebut. Keempat penyanyi di lagu ini agaknya masih bergelut dengan membagi porsi suara manusia dengan suara instrumen, padahal ini jadi momen yang pas untuk bermain akapela.

  • Tentang Kita, 24 tahun yang lalu lagu ini jadi hits yang mendakan kemunculan band ini. 17 tahun lalu lagu ini dibuat versi akustiknya yang renyah luar biasa. Dua tahun lalu evrsi daur ulang oleh RAN juga tak kalah menarik. Dan malam itu versi akustik yang kedua disajikan dengan memukau. Perbedaan utama terletak pada permainan alat musik gesek yang lebih dominan dengan intro dikomandoi oleh trombone. Jujur, lagu ini kayaknya terlalu sulit untuk tidak dijadikan ajang berkreasi dengan berbagai versi keriangan :)

  • Waktu Tersisa, lagu yang sebelumnya agak biasa saja bagi saya sebelum konser ini berlangsung. Petikan gitar Tohpati dan dentingan piano Badai saling bersahutan di lagu ini tak lama setelah  ketiga personel KLa mempersilahkan mereka berdua mengambil alih panggung. Sempat ada feeling 'masa cuma mereka berdua sih?'. Tiba-tiba tanpa basa-basi seorang pemuda dengan mantel plus topi dan syal berjalan elegan menuju microphone dan langsung menghentak dengan syair 'menyusur keramaian sepanjang sisi kota...'. He's Glenn... Glenn Fredly... What a surprise Kolaborasi ketiga benar-benar OK punya. Bagi yang belum pernah dengar lagu ini, pasti mengira ini lagu baru Glenn yang cengau suaranya sangat dominan, Tohpati dan Badai? Mereka layak menjadi "pesulap" yang sukses berat menciptakan harmonisasi di instrumen tanpa listrik menjadi sangat 'manis'

  • Anak Dara, lagu ini di versi aslinya merupakan balada yang sangat 'simpel' dengan berbagai olahan suara syahdu paduan perkusi dan piano. Versi asli tersebut sudah membuat orang bisa membayangkan betapa riuh tapi tetap syahdunya bila dikombinasikan dengan permainan orkestra. Dan itu sangat terbukti dimana lagu ini menjadi balada yang menghanyutkan suasana.

  • Semoga, salah satu lagu favoritnya dan entah kenapa ketika pertama kali membaca novel Tenggelamnya Kapal Van der Wyick *cmiiw* saya langsung membayangkan lagu ini hehee. Pada KLakustik (1996) lagu ini menjadi sangat syahdu dan di Grand KLakustik lagu ini semakin manis dengan sentuhan orkestra dimana pada bagian klimaksnya gesekan violin mendayu-dayu seolah mempermainkan emosi pendengarnya. Saluteee


  • Lara Melanda, lagu balada yang pertama kalinya saya dengar secara langsung. Mereka masih tampil bertiga (pasca lagu Gerimis). Kebetulan lagu ini juga persis dilantunkan ketika saya datang. Tirai besar merah marun ketika intro dibuka dan eaaaa sebuah tim berjumlah banyak memainkan orkestra yang masya Allah ciamik mamamiaaaaa. Diawali kesan musik 'kebingungan' seperti di kartun-kartun Tom and Jerry, dan disambung kemegahan khas orkestra
  • Tak Bisa ke Lain Hati, as usual this song make we only focus to hear and join to sing together :) Salah satu lagu dari "trilogi" yang menguasai tangga musik awal dekade 90-an. Pada lagu ini KLa lebih memerankan lakon utama dengan dengan pembawaan yang tegar dan tetap berkarakter. Peran orkestra lebih sebagai penopang kekokohan instrumen. Instrumen lembut orkestra seperti violin menjadi pemain minor. Tampaknya KLa ingin membuktikan bahwa musik orkestra juga bisa tampil "tegar", bukan hanya lembut :)


  • Hey, berbagai alat musik tiup dan perkusi berkicauan dengan selaras khas orkestra di awal lagu ini. Wah ternyata ini lagu Hey. Agak nge-mars memang lagu ini jadinya, walau begitu, derap ritme di lagu ini masih nyaman di telinga. Mungkin bila Katon bisa lebih mengkoreografikan orasi di lagu ini akan lebih menarik. Keunggulan di lagu ini adalah musik dan vokal yang rapi :)

  • Belahan Jiwa, bisa dibayang betapa uniknya ketika seseorang di tengah tribun berdiri dan memainkan harmonikanya sebagai pembuka sebuah lagu? Itulah kreativitas yang diajukan KLa di malam itu. 


  • Terpuruk Ku Di Sini, permainan terompet menghiasi lagu ini dimana Katon mampu menyuguhkan hentakan-hentakan emosi


  • Satu Kayuh Berdua, asli rasanya agak histeris dengan bagaimana semangat lagu ini dibawakan dengan benar-benar UPBEAT....two thumbs for you all


  • Meski T'lah Jauh, lagu ini selalu menghadirkan Lilo sebagai penyanyi dimana lengkingan vokalnya khas. Sesekali dia mempermainkan penonton konser dengna permainan vokalnya yang tinggi dan meloncat-loncat di sejumlah nada atas


  • Bahagia Tanpamu, agak rancak permainan orkestra dimana memang lagu ini bertemakan kepatahhatian. Agak kaget juga karena ternyata Lilo yang menyanyikannya. Dan itu artinya semua lagu dari album V divokalkan oleh Lilo semua.
  • Romansa, pembawaan agak formal diiringi derap perkusi di versi aslinya pernah diobrak-abrik Lilo dalam versi rock. Padahal di versi KLakustik 1996 Katon masih menjaga aura hening agak tegang. Dan di Grand KLakustik ini Lilo mampu mengomandoi dengan apik. Lengkingan vokal khas Lilo menegaskan bahwa dia punya andil dalam mewarnai kekayaan khasanah musik KLa


  • Gerimis, lagu ini tidak sempat saya saksikan. Tapi dari rekaman di YouTube, agaknya lagu ini menjadi pemantik pagi KLanis untuk kembali mengenang KLakustik. Diantara semua lagu di malam itu, hanya ini lagu yang benar-benar dimainkan ketiganya, walaupun cara pembawaannya agak berbeda dengan konser khas KLa Project lazimnya. Lagu ini dibawakan dengan suasana agak kalem dan pencahayaan yang kelam. Agaknya memang bertujuan sebagai pengingat bahwa ini adalah sekuel (yang tidak direncanakan pada 1996) dari konser KLakustik (yang pertama). Say hi yang asyik juga karena di lagu ini (yang menjadi pembuka konser) Katon sudah mengajak penonton ikut bernyanyi.

  • Sudi Turun ke Bumi, lagu KLa yang paling kontroversi hehee, bukan karena video klip ataupun liriknya (justru kalau secara lirik ini merupakan lagu dengan pilihan kata yang paling unik), tapi karena aransemennya. Di album pertama hingga ketiga, KLa hadir sebagai musisi yang elektrik dengan lirik balada, begitu pula dengan album keempat dan kelima nuansa elektrik lebih garang, album KLakustik muncul sebagai kontradiksi, segala perubahan itu secara kebetulan senada dengan trend musik saat itu, tapi di album Sintesa (dengan Sudi Turun ke Bumi sebagai hit single-nya) justru KLa menampilkan musik techno. Musik techno memang tidak begitu populer di Indonesiaa, khususnya dengan kondisi musisi Indonesia sebagai lakonnya. Dan dalam sejarah KLa sendiri, lagu ini relatif jarang dibawakan. Alhasil Sudi Turun ke Bumi menjadi kontroversi dengan pertanyaan 'benarkah itu lagu yang mempunyai spirit KLa Project?'. Tapi KLa sendiri menikmati karyanya diobrak-abrik dengan balutan musik latin dalam konser kali ini. Permainan rancak solo guitar sempat membuat orang kebingungan tentang lagu apa yang dimainkan kali ini. Sudi Turun ke Bumi kalau boleh jujur patut saya sebut sebagai 'produk' Grand KLakustik paling sukses :)), alasannya lagu techno di-move on-kan dengan versi latin. What a creative arrangement bro

  • Saujana, lampu panggung disisakan secuil seolah jadi 'instruksi kepada penonton untuk diam. Petikan harpa mengkhusyukkan pendengaran. Sebagian besar penonton terdiam karena terlalu sayang kalau permainana harpa ini diganggu berisiknya tepuk tangan. Benar-benar syahdu dan permainan solo ini diakhiri dengan petikan harpa yang langsung mengingatkan pada sebuah lagu, yaitu Saujana. Harmonisasi di lagu ini sangat keren. 

  • Jiwa Merapuh, permainan piano Adi Adrian langsung menghipnotis dimana tanpa dikomando langsung terbayang suasana "mencekam" khas lagu Jiwa Merapuh. Dan benar saja, orkestra di lagu ini mantap nian menjadi dekorasi yang kelam. Walau tidak disebutkan, agaknya sosok Adi menjadi komando di lagu ini dimana dia tampil sebagai sosok yang mengkoneksikan KLa dengan tim orkestra.

  • Dekadensi, lagu ini sebenarnya juga menjadi aktor pembantu kontroversinya album Dekadensi. Musik techno dipadu liukan gitar ditambah permainan drum yang rancak menjadi kombinasi yang belum pernah dijumpai di lagu-lagu KLa sebelumnya bahkan jarang ditemui dalam permusikan Indonesia. Agak kaget juga ketika tahu lagi ini dibawakan di Grand KLakustik, bisa jadi berwujud seperti apa? Ternyata segala ornamen musik techno dimigrasikan ke konsep orkestra. Kolaborasi tiga gitar yang dipimpin Lilo menjadi senjata ampuh yang menjaga kegarangan lagu ini. Hanya saja Katon agak keteteran di bagian reff dimana dia tampil sendiri sedangkan di lagu asli dan konser lainnya dia berbagi peran dengan Lilo.


  • Menjemput Impian, aishhhhh sungguh ga bisa komentar apa-apa untuk lagu ini....


  • Prahara, permainana ritmik gitar khas langsung membuat ngeh kalau ini lagu Prahara. Dan memang penyajian sendunya khas dan cocok diiringi permainan orkestra yang kali di-setting mengalun kalem


  • Kidung Mesra, kemegahan lagu ini di album KLasik digubah dengan keriangan yang sangat lepas. Tempo pada reffain penuh semangat dan bergairah, agaknya KLa tampil tanpa beban segala tetek bengek urusan teknis :) Kalau boleh memberi skor, lagu ini layak diberi angka 97 dari skala 100. 


  • Yogyakarta, memang tak lengkap konser KLa tanpa lagu ini. Semarak alunan orkestra benar-benar klop untuk membuat lagu ini lebih dan lebih ^_^


  • Mana Kutahu, salah satu lagu buatan Adi Adrian yang dikemas dengan suasana kelam dan mencekam, bahkan melebihi seramnya Terpurukku di Sini. Kematangan Adi dalam mengaransemen terbukti ditambah keberanian Katon bermain di beberapa not yang melengking.


  • Kau Pulihkan Luka. Ini lagu favorit saya di album Excellentia dimana Katon berduet dengan Sierra Sutedjo, namun di lagu ini biduan yang menjadi partner-nya adalah Angel Pieters. Cengau Angel menjadi kombinasi pas tatkala bersahutan dengan Katon. Suasana ceria buatan orkestra mampu melambungkan semangat pendengarnya.


  • Lagu Baru, dan inilah klimaks konser tersebut. KLa mengundang Sisca (ex-backing vokal di awal karir KLa) dimana dangdut menjadi senjata pamungkas kreativitas KLa pada malam itu :)

Masya Allah bersyukur sekali bisa menjadi bagian dari penonto konser kreatif tersebut.

Grand KLakustik: indescribable Creativity [1]



Pertama kali melihat poster, agak bingung juga, bisa dateng ga ya?

25 tahun, jelas hanya ada satu kali nih konser
Memang, dalam hitungan hari bakal ada videonya di YouTube, tapi apa iya gitu doank?


Hari-hari demi hari terlewati *lebay

Yang ada hanyalah ngoding, ngoding, ngoding, dan ngoding. Nyaris lupa, apalagi gelaran PPKI terus membayangi dengan klimaksnya berupa launching website indonesiakreatif.net.


Hingga akhirnya hari itu tiba, diri ini sudah ikhlas tidak nonton dan mendadak badha Ashar muncul keyakinan yang mengoptimiskan diri ini untuk menontonnya. Bermodalkan *uang seadanya heeheee* plus GPS akhirnya sampai juga di lokasi dengan posisi tempat duduk yang strategis. Kekurangsiapan jelas tergurat di tubuh saya. Sandal jepit, jaket tebal menutupi kaos Barca jelas indikasi kalau kedatangan saya sifatnya di luar rencana.


Narcis heula di wall of fame *bener ga ini istilahnya?

Perpaduan biru dan merah syahdunya lelampuan mengiri konser ini




Alhamdulillah.... Thanks KLa as my soundtrack when I write my Final Project *eh


Persis datang ketika sebuah lagu balada berjudul Lara Melanda dengan diikuti dibukanya tirai menyajikan tim orkestra. Orkestra? Ya, konser kali itu mengambil "topik" orkestra. 


Ekspedisi Andalas Siger-Tanjak #2

Sebuah pagi di suatu pombensin ...

Bus berhenti dimana di pombensin itulah hampir semua penumpang turun, termasuk saya. Tujuan (nyaris) tergapai, ya pombensin itu merupakan pinggir kota Palembang, tepatnya kawasan KM07. 7 kilometer, apabila dalam keadaan biasa, tentu memancing diri ini unuk jalan kaki, tapi dengan keterbatasan fisik (asli masih capek pisan :/)

Surat kabar yang memberitakan kemenangan Timnas U-19 atas Korea Selatan semalam

Ceritanya bukti pernah ke Jembatan Palembang

Palembang... beneran nih ngebolangnya saya berhasil yampai situ?
Teringat sekitar dua pekan sebelunya melihat peta di Studio Indonesia Kreatif yang menunjukkan lokasi Palembang yang relatif jauh dari domisili saat ini, yaitu Jakarta Selatan. Beruntungnya saat itu saya sudah mahir mempergunakan aplikasi GoogleMaps di HP sehingga lebih bisa memahami harus langkahkan diri kemana. Dan berkaca dari pengalaman 'agak serabutan dalam berwisata' saat di Bandar Lampung, maka langsung saya browsing objek menarik di Kota Pempek ini. Alhamdulillah lokasinya sudah terbayang. OKay, prioritas hari ini di 3 objek, yaitu Jembatan Ampera, Sungai Musi (kan persis di bawah Jembatan Ampera :p), dan Pulau.... Ah, syukur-syukur bisa menuju ke Jakabaring.

Mendekati Pulau Kemaro via perahu :)


Pagoda di tengah Pulau Kemaro

Jembatan Ampera dari tengah Sungai Musi


Agak siang hari, rasanya agak aneh bila tidak mmenyempatkan diri ke GSJ alias Gelora Sriwijaya Jakabaring. Emang lokasinya dimana? Bermodalkan papan arah di pinggir jalan akhirnya jarak (yang ternyata sekitar 5-7km) berhasil ditempuh. 

Agak ga percaya juga sih bisa ngebolang sejauh ini :)


yeahhhhh I was there :)


Hari mulai sore, rasanya sejuk sekali berada di Masjid Agung Palembang. Bekal Al Quran rasanya menjadi bekal terbaik sepanjang perjalanan ini :)

Mimbar khotbah Masjid Agung Palembang


Masjid yang sederhana namun mengademkan


Senja menyapa, diri ini masih berkeliaran hingga akhirnya suasana malam nan ramai di sektiar Jembatan Ampera membuktikan bahwa Palembang  terus menyala mmerona.
Merah galo ... Merah galo

Malam semakin larut, mau menginap dimana nih? Entah darimana munculnya ide ini, tapi akhirnya bocah satu ini memutuskan menginap di mushola Rumah Sakit :) 


Pulang melalui Stasiun Kertapati