Sistem Informasi =/= Aplikasi

Salah kaprah dalam memahami era digital seringkali kita temui. Termasuk diantaranya adalah definisi atau batasan 'sistem informasi'. Kerap dengan gampangnya, sistem informasi 'dianggap' sama dengan aplikasi. Kalau mengadopsi simbol matematis, maka Sistem Informasi = Aplikasi. Begitulah yang terjadi saya hingga memasuki dunia kerja. Anggapan, lebih tepatnya kekeliruan ini, jamak terjadi karena beberapa hal, baik yang disengaja maupun kurang disengaja. Padahal secara teoretis keduanya berbeda sebagai dua definisi berikut.


  • IS is a set of interrelated people, data, processes, and information technology to collects, processes, stores, and provides neccessary information of output to support an organization (Whitten et al, 2007)
  • An IS collects, processes, stores, analyzes, and disseminates information for a specific purpose. Its basic components are hardware, software, database,network, procedures, and people (Turban, McLean, Wetherbe; 2004)


Sebab yang paling jamak adalah banyaknya aplikasi yang diberi awalan 'Sistem Informasi'. Sebagai contoh, salah satu aplikasi akademik di Universitas Indonesia dinamai Sistem Informasi Akademik Next Generation alias SIAK-NG. Terpampang jelas frase 'sistem informasi' di situ. Di lingkungan pun hal ini lumrah terjadi dimana banyak aplikasi bertebaran mengusung frase serupa ataupun disingkat 'SI'. Sebab yang melanda ekosistem akademik adalah jarang dilakukannya koreksi oleh dosen ataupun reka sesama peserta didik. Apa iya perlu dimunculkan sebagai soal di tiap kuis dan ujian. Sebab lain yang menjadi pemicu adalah peran aplikasi sebagai sentral ataupun objek inti dari berlangsungnya sistem informasi yang menerapkan proses terotomatisasi.

Menengok dua definisi yang sudah disinggung di awal, tentunya sistem informasi punya ruang lingkup berbeda dengan aplikasi. Bisa dibilang, aplikasi hanyalah salah satu dari komponen sistem informasi. Karena itulah, jika memang apa yang dimaksud hanya aplikasinya dan ini bukan merk, maka akan lebih bagus jika yang digunakan adalah 'aplikasi sistem informasi'.

Blogger Tricks

Gol-nzales dan Ironi Predator Lokal

Keran pemain asing dan naturalisasi sudah menjadi 'kelumrahan' di industri sepak bola tanah air. Fenomena pertama melanda Indonesia sejak era 1990-an dimana keberadaan pemain asing menjadi modal berharga untuk menggaet prestasi, walau tidak semua pemain asing 'berumur' panjang. Tercatat banyak nama yang akan dikenang dalam jangka waktu yang panjang atas dedikasinya di kancah sepak bola tanah air. Mulai dari Jacksen F. Tiago di Persebaya [yang malah sekarang menjadi pelatih], Luciano Leandro di PSM dan Persija, Kosin Shintawechai di Persib, Aldo Baretto di Bontang FC, Edward Wilson di Semen Padang, Keith Kayamba Gumbs di Sriwijaya FC, Yoo Jae Hoon di Persipura, Zah Rahan Krangar di Persekabpas, Sriwijaya FC, dan Persipura, duo Noh Alam Shah dan Muhammad Ridhuan di Arema Indonesia, Makan Konate di Persib, dan tentunya trio Cristian Gonzales, Danilo Fernando, dan Ronald Fagundez di Persik, khusus Gonzales juga di Arema. Sebagian dari mereka berhasil membuat klubnya merengkuh trofi, ada pula yang mencaplok gelar pribadi, dan ada pula yang penampilannya gemilang walau nir-gelar. Diantara nama tadi terselip satu nama yang di tahun 2010 berpindah kewarganegaraan menjadi Indonesia. Diantara sosok-sosok tadi pun, ada nama yang tercatat masih aktif berbakti di klubnya. Nama ini juga secara statistik menjadi tonggak keberhasilan program naturalisasi yang sebetulnya jarang sukses. Lantaran Stefano Lilipaly belum bisa mengatrol medali emas, maka status pemain 'ini' selaku pemain naturalisasi tersukses pun belum bisa disanggah. Sebagai catatan, dirinya bukan pemain naturalisasi tipe 'tahu bulat' alias 'dadakan'. Dia sudah berkiprah sekian musim berbalut PSM, Persik, dan Persib.

Dia adalah Cristian Gonzales alias Mustafa Habibi. Naturalisasi menamatkan statusnya sebagai pemain asing dari Uruguay, tapi mengawali lembatan baru sebagai bomber tajam milik Timnas Indonesia. Jika saja tidak ada insiden 'neraka 3 gol dalam 10 menit' di Bukit Jalil, tentu Indonesia adalah juara AFF 2010. Turnamen menjadi satu-satunya kiprah Gonzales sebagai punggawa Garuda di luar laga persahabatan dan kualifikasi Piala Asia dan kualifikasi Piala Dunia. Jangan lupa bahwa kala itu, Gonzales tengah meredup kariernya di level klub plus pro-kontra pelatih meminggirkan Bepe yang lebih punya histori selaku bomber Garuda nyaris satu dekade. Tapi gol demi gol Gonzales menjadi pembeda dengan sepasang gol tunggal di duo laga semifinal kontra Filipina. Saat itu, hanya dia pencetak gol Indonesia untuk level semifinal. Justru dengan moncernya Gonzales-lah, Bepe menjelma menjadi supersub lantaran status 'aman'-nya sirna dan kerap bermain dari bangku cadangan.

sumber juara.net


Selepas Piala AFF 2010, dirinya tidak lagi berjodoh dengan Timnas Indonesia, baik karena faktor dualisme kompetisi di tahun 2012 ataupun faktor usia di tahun 2016, dan kemungkinan besar 2018. Sempat dibawa di AFF 2014, ternyata dia hanya tampil sekali dan itu pun nir-gol. Keran gol Gonzales untuk Timnas Indonesia terhenti di angka 11 dari 25 penampilan.  PSSI berupaya melakukan regenerasi dengan mengandalkan pemain kelahiran domestik, seperti Samsul Arif, Boaz Salossa, Ferdinand Sinaga, Lerby Eliandri, Bambang Pamungkas, Muchlis Hadi, ataupun pemain naturalisasi lainnya seperti Greg Nwokolo dan Sergio va Dijk. Kenyataannya, tidak ada ada pemain setrengginas Gonzales, kecuali Boaz dan Bambang. Yang lebih menyedihkan, nama-nama tadi di level klub pun tidak setokcer Gonzales. Boaz memang berhasil membawa Persipura juara ISL 2011 dan 2013 serta ISC 2016, Ferdinand memang mengerek Persib juara ISL 2014 plus pemain terbaik kala itu, Bepe memang mendongkrak Pelita BR hingga semifinal di ISL 2014. Tapi kenyataannya mereka tidak secakap Gonzales dari sisi torehan gol, sosok yang sebetulnya berusia kepala empat.

Di ISC 2016 serta Piala Presiden 2017, dia kembali menyihir sepak bola tanah air. Di tengah 'kacaunya' klasmen pencetak gol ISC 2016 lantaran didominasi Alberto Goncalves, Marcel Sacramento, dan Luis Carlos Junior, dirinya tetap mampu produktif dengan sumbangsihnya golnya yang kerap menentukan hasil akhir. Sulit dibantah pula bahwa nama-nama striker yang dibawa Alfred Riedl adalah mereka yang torehan golnya kalah dari Gonzales. Jika saja Mr. Riedl tidak dicekoki kuota dua pemain per klub serta idealisme membawa pemain muda, sangat mungkin Gonzales menjadi salah satu dari starter eleven timnas. Starter/ Ya, menjadi starter dan bermain 90 menit bukan hal yang sulit bagi Gonzales walau usianya senja. Dia bukan tipe yang senang berlari tapi dia tipikal oportunis yang dikaruniai otak cemerlang dari memosisikan diri di kotak pertahanan lawan. Di Piala Presiden dia patut diganjar gelar sebagai 'biang keladi' antiklimaksnya Semen Padang. Bermodalkan 5 laga tanpa kebobolan, termasuk unggul agregat 3-0, justru dialah pencetak 5 gol yang membuat Singo Edan berjingkrak menuju final. Di final, dia 'mencocor'-kan hattrik alias tiga gol untuk membawa pulang trofi juara sekaligus top scorer Piala Presiden. Gelar individu yang rasanya 'menyindir' kebijakan PSSI dalam menerapkan kuota pemain di atas 35 tahun plus kuota sekian pemain muda di tiap klub. Dua aturan tersebut bakal diproyeksikan di Liga Indonesia tahun 2017 ini. Aturan yang ternyata tidak menghambat dirinya menjadi predator 'terrakus' di turnamen lalu. Predator yang masih bertahan lantaran sikap profesional sebagai atlet serta sikap Arema yang berani memberi dia kepercayaan 'lebih' di usia yang 'berlebih'.

Niat PSSI sebetulnya bagus, yaitu mendorong klub menyediakan jam terbang lebih bayak bagi pemain muda. Tapi aturan kuota pemain muda rasanya sudah cukup, tidak perlu pembatasan pemain 'mendekati uzur'. Kenyataannya sosok seperti Gonzales masih lestari dan menari-nari. Kenyataannya Arema juga bisa menyuguhkan pemain muda berkualitas seperti Hanif, Ryuji Utomo, dan Adam Alis. Kenyataannya, belum ada predator yang lebih mengerikan dari Gonzales saat ini. Kalau saja Luis Milla berani 'bertaruh' untuk menyisakan satu nomor punggung untuk Gonzales di gelaran AFF 2018 nanti, bukan tidak mungkin ada sesuatu berbeda.

Review of SPIS 9th Session

Pasca-UTS, PSSI memasuki CLO-3 dan 4. Setelah mahasiswa berhasil lolos dari standar minimum yang ditetapkan di CLO-1 dan 2, kecuali mahasiswa yang memang bermasalah, tentu diharapkan semua mahasiswa bisa menggaet hasil yang optimal di CLO-3 dan 4 agar nilai akhir seperti yang diharapkan oleh masing-masing mahasiswa. Secara pribadi, saya mematok nilai AB sebagai target seorang mahasiswa di mata kuliah pilihan. Malah nilai A seharusnya bisa diraih jika strategi yang diterapkan tepat. Nah, awal dari CLO-3 ini adalah kajian PSSI dari sisi riset.

Yeyeye lalalala desain cover baru, biar lebih kekinian

Sepintas antara konsep riset ilmiah dengan PSSI tidak ada hubungan yang erat. Mengapa demikian/ Wajar saja, PSSI lebih menekankan praktik penerapan yang kadang 'menyederhanakan kompleksitas akademik'. Berbagai teori yag dipelajari di akademik kenyataannya perlu banyak modifikasi agar tepat guna. Namun, PSSI sebetulnya tidak akan berhasil jika tidak menerapkan konsep riset. Hal ini yang dipaparkan di awal berupa dua poin, yaitu

  • SP in SPIS stands for Strategic Planning that should be proclaimed officially as policy in an enterprise.
  • SPIS should be designed and formulated using systhematic logical thinking which comply with research concept.


Materi yang diulas di kelas banyak terinspirasi dari apa yang diajarkan oleh Pak Riri Satria serta pengalaman empiris bareng Pak Yudho. Sebagai awalan, konsep Research Policy dibahas meliputi pembuatan kebijakan serta analisis kebijakan. PSSI sendiri kalau dari nama dan sampul produknya merupakan riset pembuatan kebijakan. Namun di dalam penyusunannya, tentu ada analisis kebijakan yang sudah ada, termasuk jika sudah ada Renstra SI/TI yang 'menjelang kadaluarsa'.

Memang, apa yang saya hasilkan di riset terdahulu tidak sempurna. Namun saya mencoba untuk mendidik diri sendiri agar apresiasi terhadap apa yang sudah diperbuat dan pede tentunya.

Ulasan selanjutnya adalah proses 'pencaplokan' masalah pada sebuah organisasi. Yang ini sebetulnya sudah menjadi 'pemicu' mahasiswa untuk berpikir mengenai bagaimana sih menangkap permasalahan yang sebetulnya terjadi di sebuah organisasi. Lebih lanjut lagi, apa penyebabnya detail dan bagaiamana SI/TI bisa menjadi solusinya. Ilustrasi sebagai simulasi sederhana coba kami diskusikan, yaitu demo transportasi umum serta kekurangsuksesan iDEA. Sebetulnya saya melihat mahasiswa lebih melek saat diskusi dibandingkan momen saat 'ceramah', ya iyalah sudah gede mereka punya gagasan yang jangan banyak diempet.



Setelah mahasiswa mengenali strategi mengidentifikasi masalah, berikutnya mereka diajak berkenalan dengan tinjauan pustaka. Barangkali ini menjadi ulasan yang teoretis dan agak abstrak, terutama jika mahasiswanya belum membayangkan topik skripsi. Maka apa yang diulas di sesi ini tidak terlalu njelimet. Fokusnya ada pada fungsi tinjauan pustaka dan cara melakukan tinjauan pustaka. Insya Allah pekan depan barulah memasuki sesi penerapan.

Contoh bentuk tinjauan pustaka berupa kritik terhadap literatur yang kita baca

Review of SPIS 8th Session


UTS mata kuliah pilihan PSSI sudah sepekan lebih berlalu. Banyak pelajaran menarik yang bisa dipetik dari 13 soal yang digulirkan lalu. Sebagai pecinta statistik, saya menemukan beberapa fenomena yang bisa menjadi pelajaran. Tidak sebagai vonis yang menggeneralisasi mahasiswa, tapi peringatan untuk lebih memperbaiki performa mahasiswa.


Saya melakukan penelusuran berupa keterkaitan antara soal UTS dengan kis ataupun tugas dengan topik serupa. Ada fenomena menarik berupa mahasiswa yang nilainya buruk di soal tertentu pada UTS, ternyata memiliki nilai tugas yang relatif tinggi. Tentunya nilai tugas yang dimaksud yang topiknya serupa dengan si soal UTS tadi. Sebagai contoh, soal 10 berikut terkait dengan pemetaan aplikasi dengan kuadran Mc Farlan. Tentu ini indikasi yang menimbulkan banyak hipotesis. Apakah si mahasiswa tidak mempelajari yang pernah dikerjakan ataukah si mahasiswa pasif saat mengerjakan tugas kelompok ataukah ada faktor lain. Hmmm


sedikit selingan berupa potongan klip cocokologi dari Ini Talkshow

Pelajaran untuk kita semua. Apa yang kemarin dikerjakan harus bisa dipertanggungjawabkan

Essien dan Persib

Beberapa pekan lalu Persib Bandung berkali-kali digelontori komentar pesimis, mungkin lebih tepatnya perintah untuk bangun dari mimpi. Berbagai celotehan di media sosial memang banyak yang cenderung menertawakan keinginan klub ini menggaet bintang luar negeri. Wajar jika isu ini banyak dianggap sebagai lelucon karena hampir seluruh pemain impor di kompetisi sepak bola Indonesia bukan nama papan atas yang dikenal oleh media internasional. Sosok Cristian Gonzales, saat dia belum menjadi WNI, memang pernah satu tim dengan Alvaro Recoba, legenda Uruguay, tapi apa iya Gonzales terkenal di negeri asalnya. Sosok fenomenal seperti Alberto Goncalves, Hilton Moreira, Pacho Kenmogne, Yoo Hyun Koo, Kenji Adachihara, dll, berasal negara yang punya reputasi bagus di kancah sepak bola, tapi tidak dengan individu tadi. Barangkali beberapa nama yang cukup nyaring namanya di negara asalnya sempat kita punyai, misalnya Zah Rahan Krangar, Makan Konate, Pavel Solomin, Keith Kayama Gumbs, Kosin Shintawechai, Noh Alam Shah, Safee Sali. Tapi peringkat FIFA ke berapa Liberia, Mali, Uzbekistan, St. Kitt and Navis, Thailand, Malaysia, dan Malaysia. Kasus 'undangan' spesial untuk Mario Kempes yang menyandang status jaura Piala Dunia 1978 praktis menjadi memori yang sulit diulang. Bahkan untuk nama yang pernah berselancar di Piala Dunia seperti Pierre Njangka dan Roger Milla pun agak sukar terjadi. Ketiganya pun hadir di usia senja, bukan di usia yang masih berjaya.

Tapi kejutan yang tidak disangka akhirnya terjadi. Seorang bintang Afrika yang lama mengarungi kompetisi Eropa kini berseragam Persib. Dia adalah Michael Essien. Sosok, yang bagi saya pribadi, selalu mengingatkan pada semifinal dramatis Chelsea vs Barcelona. Gol spektakulernya barangkali bakal diganjar komentar 'jegeerrrr tendangan prahara LDR yang memorak-porandakan rumah tangga pertahanan lawan' oleh Bung Valentino Simanjuntak. Gol yang 'tadinya' bakal diingat sebagai penentu kelolosan Chelsea ke final hingga tendangan keras Iniesta, yang sebetulnya tidak sespektakuler Essien, memupus asa tersebut. Tiga musim berselang, Essien menjadi salah satu pemain Chelsea dikalungi medali juara Liga Champions Eropa. Ya, dia adalah peraih juara Liga Champions Eropa pertama yang berlaga di kompetisi sepak bola Indonesia. Sebagai perbandingan, hingga kini belum ada satu pun peraih juara Liga Champions Asia yang berlaga di Indonesia. Sebagai perbandingan juga, di kompetisi negara-negara ASEAN seperti S-League, V-League, bahkan Thailand, belum pernah ada yang melakukan akuisisi seperti ini. Menariknya, proses akuisisi Essien justru terjadi di tengah migrasi besar-besaran para bintang top dunia ke liga sepak bola Tiongkok.

Dari sisi finansial, akuisisi Essien ini memunculkan rasa ingin tahu tentang berapa gajinya selama berkiprah di Persib. Sudah hampir dapat dipastikan Essien dibayar dalam skala miliar, tapi berapakah dan miliarnya itu per tahun atau malah per bulan ya. Yang pasti, stadion Siliwangi dan Persib kini bakal didominasi jersey-jersey Persib dengan nama Essien dan nomor punggung 5. Kalau saja, bobotoh membeli kostum yang orisinal dan apparel membandrolnya dengan harga 100-200 ribu 'saja', saya optimis 25 gaji Essien bakal tertutupi oleh penjualan jersey khusus hanya Essien. Yang pasti, kehadiran Essien secara otomatis bakal menguatkan 'nilai jual' Persib Bandung. Entah produk apa lagi yang akan 'mengeksploitasi' jersey Persib yang sebenarnya pun sudah terlalu ramai. Jangan lupa pula tawaran iklan yang pastinya bakal mengantre slot waktu Persib.

Pertanyaan yang nantinya bakal mengiringi kiprah Essien pun sebetulnya banyak. Mulai dari performa Persib maupun kompetisi sepak bola Indonesia nantinya. Sudah bukan rahasia bahwa Persib kerap menjadi 'kuburan' bagi banyak pemain yang sudah punya nama. Sebut saja kapten Singapura, Shahril Ishak, yag tidak banyak berkontribusi dalam satu musim singkatnya di Persib, pun dengna kompatriotya, Noh Alam Shah dan Baihakki Khaizan. Musim kemarin, pemain sarat pengalaman bernama Belencoso 'mandul gol' walau portofolioya kinclong, jangan lupakan Herman Dzumafo, Pablo Frances, dan Mbida Messi juga. Nama-nama lokal pun banyak yang serupa nasibnya. Mulai dari Zulkifli Syukur, Airlangga Sucipto, Zaenal Arif, Rudolof Yanto Basna. Ada yang karirnya singkat, ada pula yang terus menjadi penghangat bangku cadangan. Apakah kualitas individu Essien bisa membedakannya dengan nama-nama lain di paragraf ini. Menarik disimak.


Paduan Dua Lini Waktu

Percakapan Diri Sendiri

Seperti sebaris lagu Yogyakarta, 'di persimpangan langkahku terhenti'. 
Hanya saja kelanjutannya adalah 'ramai asa belum berwarna, menjajakan sajian khas yang masih maya, ragu duduk bersila. Ya, sepertinya begitu. Termagut meniti persulaman dalam konteks masa depan. Entah orang punya sudut pandang beragam. Yang bisa dipetik sekedar saran, tidaklah perlu menjadi instruksi yang dijalankan begitu saja, apalagi jika masih dirundung bingung.

Seperti barisan lagu Kemenangan dalam Kekalahan, 'ternyata di satu kekalahan, masih tersimpan kemenangan, kesempatan untuk mencari arah hidup sebenarnya'. 
Ya, seharusnya begitu. Walau sukar untuk memahami dengan mudah, pasti kita bisa menjangkau hikmah dari sebutir debu di jalanan. Itu jika kita optimis, sebuah sikap yang paling mudah diucapkan namun sulit dijalankan.

Seperti saran di lagu Lepaskan 'lepaskan seluruh dukamu, waktu pun berganti, kau akan pahami'. 
Semoga...

Antara Malang dan Barcelona

Kabupaten Malang di Jawa Timur dan Kota Barcelona di Catalonia. Dua kota yang terpisah sekian kilometer, dan terpaut jauh dari sisi sosial, ekonomi, budaya, teknologi, tapi ada kesamaan dari sisi fanatisme sepak bola. Masing-masing punya klub kebanggaan yang sudah bertahun-tahu mendominasi percaturan sepakbola domestik, walau yang satu sudah berusia seabad lebih plus sudah bertaraf interasional prestasiya. Dua klub ini dalam tempo kurang dari sepekan menjadi topik hangat lantaran catatan fenomenal berupa come-back atau pembalikan keadaan yang bombastis.

Stadion Kanjuruhan di Kabupaten Malang, 5 Maret 2017
Defisit satu gol dari Semen Padang di laga pertama, Arema FC terlihat bakal dicoret dari nominasi finalis Piala Presiden 2017. Maklum, lawan yang dihadapi belum pernah kebobolan dari 5 laga sejak putaran grup, bahkan sangat mengerikan lini depannya. Sepintas kemungkinan itu semakin nyata saat duo Sacramento dan Mofu membobol gawang Arema. Arema harus membalas 4 gol karena jika hanya mengimbangai dengan 3 gol maka Semen Padang yang lolos bermodal unggul gol tandang. Tapi apa yang terjadi berikut sulit dijelaskan dengan kata-kata. Seorang pemain Arema yang berusia kepala empat mampu mengganjar Semen Padang dengan lesatan lima gol. Lima gol yang terlalu gila sebagai bentuk pembalikan keadaan di sebuah laga. Rekor gol terbanyak oleh seorang pemain dalam sebuah kompetisi dan turnamen di Indonesia, entah sejak tahun berapa.

Stadion Camp Nou di Kota Barcelona, 9 Maret 2017
Hampir semua orang sudah terlanjur memvonis Barcelona hanya melakoni laga basa-basi di leg kedua 16-besar Liga Champions Eropa. Babak belur 4-0 oleh PSG menjadi aib yang, mengutip kata-kata Babe Cabita, 'Ah Sudahlah'. Status PSG sebagai juara Liga Prancis dan mulai berpengalaman di kancah Eropa pun didukung sejarah Barcelona belum pernah membalikkan keadaan jika tertinggal 4-0. Tapi Barcelona adalah klub yang punya nyali tinggi. Nyali yang membuat mereka mampu memberondong PSG 3-0 hingga menit 50. Barcelona mulai berharap bisa membobol sebiji gol untuk menyeret PSG ke perpanjangan waktu, atau syukur-syukur sepasang gol langsung. Tapi gempuran mendadak PSG memorak-porandakan mimpi Barcelona, sepertinya. Ya, sepertinya 3 gol di sisa 30 menit terlalu sudah melihat pertahanan PSG semakin rapat. Terasa blunder Barcelona yang nir-gol di laga pertama menyulitkan mereka lantaran PSG kini menabung 1 gol tandang. Hingga menit ke-87, skor 3-1 agaknya sudah cukup bagi PSG untuk mengagendakan laga tengah pekan di April nanti. Tapi Barcelona bermain seperti kerasukan makhluk halus. Berbagai gempuran akhirnya membuat PSG gugup hingga dua pelanggaran terjadi di pertahanan mereka yang mana berbuah gol semua. Skor berganti 5-1 yang masih memihak PSG. Ter Stegen, kiper Barcelona bahkan memutuskan maju ke depan, karena kebobolan berapa lagi pun tidak dihiraukannya. Termasuk sejarah baru seorang kiper, yaitu dirinya, dilanggar di wilayah pertahanan lawan. Dalam hitungan kurang dari semenit injury time, Barcelona akan tersingkir, tapi umpan panjang Neymar ternyata mampu dijangkau Sergi Roberto dan gol. Sontekan yang lahir dari pemain pengganti yang hanya berjarak sepersekian detik dan sepersekian centimeter dari perangkap offside. Gol yang konon ditengarai menjadi penyebab gempar kecil lantaran gemuruh tibun penonton yang histeris atas gol tersebut. Gol yang membalikkan keadaan sekaligus menambah panjang nafas Barcelona di Liga Champions Eropa, minimal untuk 180 menit di babak 8-besar.

Sertifikasi Ulama, Momen yang Salah atau Esensi yang Buram?

Akhirnya isu itu perlahan padam. Setidaknya untuk sementara waktu lantaran negara keburu heboh skandal korupsi e-KTP dan kunjungan Raja Salman. Isu ini tentang wacana sertifikasi ulama, yang terus terang saja jika dibahas sekarang ini, setidaknya 1 s.d. 2 tahun mendatang, kecenderungannya negatif. Wacana ini entah secara resmi berangkat dari siapa dan entah pula dengan argumen apa. Santer terdengar bahwa banyak isi khutbah sholat Jumat yang bermuatan politik. Ada pula tudingan bahwa ulama berpihak sebagai oposisi pemerintah. Ada pula kemungkinan untuk mengendalikan konten ceramah ulama.

Negeri Jiran, Malaysia, sebetulnya juga menerapkan hal serupa. Namun tujuan sudah ditegaskan, yaitu mencegah adanya penyebaran aliran sesat. Artinya, motivasi terkait agama, tidak ada kerancuan dengan politik. Lain halnya di negeri ini hohooo. Memang ada sejumlah individu yang diklaim oleh beberapa sekte sebagai ulama mereka. Tapi keberadaannya tidak begitu masif jika bicara angka. Justru yang terjadi adalah kegaduhan pemerintahan yang membuat beberapa kali ulama lantang bersuara untuk mengusulkan solusi. Wacana sertifikasi ulama saat ini justru memantik opini bahwa ulama hendak dikerdilkan perannya. Apalagi, di saat bersamaan sejumlah ulama digeledah dan dihentak dengan sejumlah kasus yang terlihat sekali rekayasanya. Maka sekali lagi dari sisi waktu, jika sampai wacana itu disahkan, ini menjadi blunder besar mengingat masyarakat sedang sensitif dengan isu SARA.

Baik buruknya sertifikasi ulama, terlepas dari cuaca politik yang sedang gerah, memang sangat bisa diperdebatkan. Mulai dari kemungkinan standar dalam materi, kemungkinan sensor terhadap ulasan tertentu, kemudahan dalam melakukan konsolidasi, hingga peningkatan kualitas. Tapi melihat kondisi yang sudah-sudah, rasanya sertifikasi ulama belum mendesak. Masyarakat selama ini sudah bisa menilai kualitas ulama, baik yang muncul di acara fisik maupun secara daring/elektronik. Beberapa agenda keagamaan bahkan memajang gelar akademik ulama yang mengisi, misalya S.Ag., Lc., sehingga bisa ditakar kualitasnya. Apabila ada sesuatu yang kontroversi, tentunya dan seharusnya sudah ada regulasi yang mengantisipasinya. Mulai dari hukum terkait penistaan agama tertentu, hukum terkait penghasutan, hingga terkait penyebaran ajaran sesat. Apabila yang terjadi masalah ada perbedaan sudut pandang mengenai beberapa hukum yang disebutkan tadi, sepengamatan saya, sertifikasi ulama tidak menjanjikan solusi.

Review of SPIS 7th Session

Alhamdulillah akhirnya tiba jua di pertemuan ke-7, pertemuan terakhir sebelum memasuki milestone UTS. Bisa dikatakan, perjalanan sudah separuh dari sisi waktu, tentu bukan perjalaan yang enteng mengingat perkuliahan ini penuh dinamika tugas dan berbagai kesibukan mengumpulkan literatur yang layak dibahas. Pada akhirnya, komponen-komponen pengetahuan tentang bisnis serta SI/TI memasuki ulasan yang implementatif, yaitu bagaimana sih melakukan PSSI itu. Bagaimana proses implementasi itu akan menjadi suguhan pasca-UTS sehingga yang diulas di pertemuan 6 dan 7 hanyalah preview atau ulasan awal yang relatif singkat. Perlu ditambahkan embel-embel 'relatif' karena durasi kuliah 150 menit jelas mendorong dosen cerdik mengisinya dengan materi berkualitas.

Pertemuan ke-7 ini sebetulnya kelanjutan dari pertemuan 6 berupa pembahasan kerangka kerja dan metodologi dalam PSSI. Agar 'PEDEKATE' terhadap beberapa kerangka kerja di pertemuan 6 tidak lupa, maka hal tersebut kembali dibahas, khususnya dari sisi karakteristik spesial yang membuat tiap kerangka kerja berbeda satu sama lain. Bisa dikatakan perbandingan antara kerangka kerja PSSI itu mirip buah-buahan. Maksudnya, tiap buah berbeda satu sama lain, mulai dari bentuk, rasa, hingga kandungan nutrisi dan khasiat kesehatannya. Maka, perlu penjelasan yang kualitatif dalam membandingkannya.

Sebagai tambahan, pertemuan ke-7 ini juga melengkapi beberapa kerangka kerja yang belum sempat dibahas di pertemuan 6, misalnya Wetherbe dan Hospital Strategic Information System. Keduanya ini lalu disoroti pola pikir ilmiahnya dan dibandingkan dengan UI ITMP, Ward and Peppard, Be Vissta Planning, hingga Tozer. Walau secara detail berbeda, mereka punya benang merah, yaitu adanya proses 'introspeksi' terhadap kondisi bisnis dan SI/TI saat ini. Hal ini sangat logis karena apa yang diusulkan tentunya harus sesuai kebutuhan saat ini dan berangkat dari realitas yang ada.

Khusus di pertemuan ke-7 ini, ulasan utama selanjutnya adalah konsep Enterprise Architecture. Konsep ini harus diakui merupakan istilah yang jarang diketahui oleh anak prodi Informatika. Selain karena porsi besar informatika di ranah komputasi, kenyataannya arsitektur organisasi/perusahaan tidak tersedia mata kuliahnya khusus, bahkan setingkat mata kuliah pilihan. Padahal, perkembangan bisnis saat ini sudah memicu kebutuhan pengetahuan tentang arsitektur organisasi/perusahaan. Barangkali keberadaannya di salah satu bab di mata kuliah Sistem Informasi dianggap sudah cukup. Secara pribadi, saya berpendapat lain.

Konsep Enterprise Architecture ini dituangkan dalam dua kerangka kerja PSSI paling 'laku' sepanjang sejarah, yaitu TOGAF dan Zachman. Khusus TOGAF, saya punya pengalaman pribadi riset yang sifatnya terapan dnegan memakai TOGAF, yaitu di Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, bahka hasi risetnya alhamdulillah sampai lolos putaran final SNATI 2012. Zachman sendiri, saya baru sebatas tahu komponen-komponennya, itu pun tidak secara detail.

TOGAF, dapat dikatakan sebagai proses pembuatan Enterprise Architecture yang dijalankan runut/sequential, bahkan mungkin saja iteratif. Namun jelas titik mulainya. Dengan 8 fase mayor yang ada, terdapat jenis-jenis arsitektur yang menjadi produknya. Selain itu, terdapat 3 fase yang secara khusus disediaka untuk menangani manajemen perubahan. Hanya saja, sebelum 3 fase ini dijalankan, terdapat fase Opportunities and Solution yang merupakan bentuk lain dari Gap Analysis. Praktis, jika kondisi yang menjadi rencana masa depan tidak jauh berbeda dibandingkan saat ini, ataupun kemungkinan penolakan/resistensi atas usulan yang ada, tiga fase terkait manajemen perubahan tidak terlalu dipertimbangkan secara masif.

Zachman, yang ini dapat disebut sebagai ensiklopedi yang 'sapu jagat'. Pola pikir pembentukannya relatif menarik, yaitu berangkat dari urutan sebuah proses, yaitu inisiasi s.d. teknis pelaksanaan, dipadu dengan kebutuhan jenis informasi, yaitu 5W dan 1H. Yang menjadi unik, matriks yang dihasilkan ada kesamaan pola pikir dengan Information System Building Block yang digagas oleh Whitten. Nah, kalau Zachman sendiri, dalam kenyataan praktiknya, tidak melulu dipakai seluruh matriksnya. Apabila secara teknis hanya perlu merancang asitektur yang ada dengan asumsi tidak ada perubahan pada arsitektur yang lain, maka pengguna dapat mencomot 'potongan kue' Zachman sesuai kebutuhan.