Khas Pedesaan

Sawah, kebun, dan ramah
Khas pedesaan tentram merenda
Nyaman beralaskan bumi
Naungkan wahana silatirahim

Ada makna menderma kasih
Jalinan sekian tetap terpelihara
Terjaga masa membahu kepribadian

Hingga jarak hanya soal angka
Dan tautan akar terkait rasa
Lestari tak lekang sekujur era:-)

Blogger Tricks

Happy Ied in Aceh

Pawai Lebaran @Aceh

InfografisSedsrhana Sejarah Provinsi

Mengisi waktu luang dengan bermain aplikasi #SimpleMindFree yang kali ini hasilkan ilustrasi sederhana tentang perkembangan provinsi-provinsi di Indonesia. Masih banyak informasi yang luput seperti pergantian nama provinsi, peleburan provinsi-provinsi era RIS, transisi RIS ke RI, hingga beberapa versi kelahiran provinsi.

Monggo jika ada koreksi

Masjid Baiturrahman Kian Memesona [2]

Kali ini potret Masjid Baiturrahman di Banda Aceh dengan mode panorama. Resolusi gambar terbatas sehingga kurang tajam, ya maklum tabletnya emang fokus bukan untuk fotografi.

Ide memotret kali ini sebetulnya diawali ragu-ragu takut warna lampu payungnya pas lagi ganti, nanti jadi beda warna. Tapi setelah dipikir bukannya malah unik ya? Malah menayangkan berbagai warna-warni yang lebih semarak. Ternyata benar juga. Alhamdulillah hasil gambarnya nggak jelek-jelek amat hehee.

Ekspedisi Malam di Pontianak

Jam menorehkan jarum pendek di angka 10. Ya, sekarang suasana sudah larut malam dimana Pontianak bukan kota yang ramai berdenyut layaknya Jakarta ataupun Bandung. Kawan-kawan tim promosi Tanda Tandan Digital sebagian sudah pulang kandang ke kamar hotel, tentu mereka lelah setelah sehari yang menguas tenaga. Entah mengapa saya terlalu riskan untuk membiarkan malam berlalu dengan diam atau tidur, padahal sebetulnya saya juga lelah. Barangkali saya masih terlalu penasaran dengan sebuah objek bernama Masjid Jami' Pontianak yang belum sempat saya singgahi hari ini. Kebetulan kota waktu saya di kota ini sangat terbatas, tidak lebih dari 2 x 24 jam dimana waktu senggangnya hanya bia diperoleh dengan membarternya dengan waktu istiahat. Baiklah, saya memutuskan mencari masjid tersebut saat itu juga hanya bermodal Google Maps di tengah sunyi malam, sendirian, serta modal nekat dan niat nggak berbuat macem-macem.

Benar saja, suasana kota agak gulita dengan tingkat keramaian hanya 1 dari skala 10. Saya perlu menyeberangi jembatan yang berada cukup jauh dari penginapan lantaran lokasi masjid berada di seberang Sungai Kapuas. Permasalahannya, lokasi penginapan, lokasi masjid dan eberadaan jembatan membentuk huruf U. Ya nikmati saja wisata 'dadakan' ini sebagai kesempatan mengamati ekosistem sosial yang 'lebih asli'. Sepanjang jalan hanya ada dua lokasi yang masih ramai, yaitu pasar [tentu saja jam 10 malam sudah terhitung cukup 'pagi' bagi pasar] serta jembatan tersebut. Saya beruntung karena jembatan menyediakan jalur khusus pejalan kaki. Seumur-umum baru kali ini menyeberang sungai dengan fitur jalur khusus pejalan kaki, apakah banyak orang tipe pegembara seperti saya di sini hehee. Beberapa kali saya mejeda langkah saya untuk menikmati panorama kota dari tengah jembatan. Terlihat jelas ada kesenjangan lampur antara sebelah Selatan sungai dengan sebelah Utara.

Sukses meyeberang, berikutnya saya harus berkelana mencari masjid yang saya pun 'buta' dimana jalan yang patut dilalui. Dengan analisis singkat [bisa dibilang 'ngawang'], saya membidik pesisir sungai sebagai jalur untuk mengakses masjid tersebut. Alasannya hanya pesisir sungai yang menunjukkan kejelasan arah tanpa tersesat ke kanan ataupun ke kiri. Saya berpikir bahwa ekspedisi ini sangat nanggung jika harus mandek. Terlalu sayang jika saya balik kanan begitu saya, ayolah ke sini sangat susah, masa pulang tangan kosong hehee.

Heningnya malam dipadu angin syahdu terbawa pekat kala itu. Berbagai rumah panggung dibangun di atas pesisir sungai, beberapa diantaranya sebetulnya sudah 'offside' lataran pasaknya tertanam di bawah permukaan air. Saya bukan lulusan teknik sipil dan saya hanyalah pengagum keindahan arsitektur, maka saya tidak bisa memikirkan teknik membangun rumah yang bentuknya demikian. Pun dengan ancaman abrasi ataupun pasangnya air sungai, otak saya tidak mampu menjangkau topik-topik itu. Saya juga tidak mau berpikir pusing proses perizinannya yang boleh jadi 'abu-abu' di mata hukum. Yang pasti, saya takjub dengan eksistensi rumah-rumah ini lantaran tiap rumah memancarkan pendar kesederhanaan.

Kesederhaan menjadi sesuatu yang berlimpah ruah dan menjejali kepala saya. Dengan berbagai keterbatasan finansial, penduduk di pesisir sungai masih bisa hidup dan melangsungkan roda pencaharian mereka. Mereka mampu menghidupi dan merawat keluarga mereka dalam keterbatasan infrastruktur rumah. Kesederhana menjadi barang lazim yang menghangatkan sanubari saya sebagai pengembara. Benar juga, bahagia tidak identik dengan gelimang mewah. Mereka yang tinggal di pesisir sungai ini bukanlah pihak yang kalah dalam beradu

Filosofi Kelapa [1]

Kelapa identik dengan Pramuka bukan tanpa alasan. Kelapa merupakan flora yang mampu 'dieksploitasi' manfaatnya dalam knteks positif secara maksimal. Hampir seluruh organnya bisa bernilai manfaat, khususnya secara ekonomi. Batangnya bisa menjadi kayu yang dipakai industri mebel. Daunnya banyak diburu menjelang lebaran sebagai bungkus ketupat yang sebetulnya sudah jadi hal yang biasa bagi penjaja sate padang ataupun ketoprak, plus menjadi aksesori penanda lokasi resepsi pernikahan. Buahnya saat muda sangat segara sebagai es kelapa muda. Agak tua sedikit, buahnya menjadi bahan baku santan sekaligus minyak kelapa. Dua jenis kulit buahnya pun bisa dimanfaatkan. Kulit berupa sabut bisa menjadi sapu sedangkan kulit versi cangkak bisa jadi perangkat dapur. Barangkali akar kelapa yang masih belum saya ketahui manfaatnya. Saya sendiri belum menjumpai tanaman yang segokil kelapa dalam menghasilkan manfaat.

Begitulah filosofi hidup ala kelapa. Bermanfaat semaksimal mungkin, apapun konteks aktivitas yang kita lakukan haruslah menjadi umber manfaat bagi sekitar. Selaku akademisi, kita punya visi untuk mencerdaskan lewat proses pendidikan yang mengedepankan kualitas. Pendidikan dalam wujud emngajar di sesi perkuliahan tidak sekedar mengisi 'check list', kita perlu mempergunakan sesi tersebut sebagai kesempatan untuk menyebarkan manfaat. Bagaimana menyebarkan manfaat seharusnya/ Sulut menjawabnya secara eksak, namun sebagai gambaran proses pengajaran perlu berorientasi pada tiga hal, [1] gaya ajar yang nyaman oleh pengajar, [2] karakteristik peserta ajar, dan [3] kebutuhan prodi dan tren industri. Jika salah satunya tidak diperhatikan maka manfaat yang dihasilkan bisa berkurang. Misalnya saja dengan mengabaikan karakteristik peserta ajar yang ngantuk setelah sholat Jumat bisa menyebabkan sesi 150 menit dilalui tanpa ada ilmu yang bisa dicerna peserta didik. Sebagai praktisi industri TI, kita juga perlu menyadari bahwa kita punya potensi untuk menyebar manfaat lewat pengetahuan kita yang diperoleh dari berbagai pengalaman di akademik maupun praktisi lainnya. Eksplorasi kesempatan itu.

Menyebar manfaat memang tidak selalu berbanding lurus dengan apresiasi materi yang kita peroleh. Tidak masalah, ada kalanya kita perlu meng-infak-an pengetahuan kita tanpa memedulikan umpan balik materi.

Rmadhan yang Ramai Pilihan [2]

Ramadhan menyodorkan tantangan untuk kita. Jika bisa menahan diri dari hal-hal yang (biasanya) boleh (seperti makan dan minum), tentunya kita bisa menahan diri dari hal-hal yg berlebih-lebihan ataupun hal-hal yg diharamkan/dilarang. Saya tidk bisa menahan diri untuj terhenyak atas ungkapan tersebut yang disampaikan saat kulyum shalat Tarawih di mushola Sukamulya tersebut.

Kenyataannya memang begitu. Sebetulnya yang disampaikan di atas hal yang sangat lumrah. Saat adzan Shubuh berkumandang hingga adzan Maghrib dihelat, saat itu pula segala macam hidangan, baik minuman maupun makanan, menjadi haram untuk dimakan. Padahal hidangan tersebut halal dn bersih. Tapi komitmennya dalah menahan diri untuk tidak mengonsumsinya. Dan pada kenyataannya kita sanggup menahan diri tidak makan dan minum (kalau di Indonesia) sekitar 13-14 jam. Padahal makan dan minum adalah kebutuhan primer manusia. Yang KTP Islam tapi tidak puasa tanpa alasan syar'i, tidak saya komentari.

Tapi yang jadi menarik adalah kita kerap kurang mampu mengendalikan diri setlh adzan Maghrib bergulir untuk sesuatu yag awalnya berstatus kebutuhan primer. Sebagai contoh, fenomena "ifthar explosion"alias buka puasa dengan hidangan berlebihan. Saking berlebihannya apa yang ada di meja lebih mirip etalase rumah makan pdang dan warteg, baik dari sisi porsi maupun beragaman kontennya. Apakah salah? Coba evaluasi niat. Evaluasi juga dampak yag terjdi. Apakah niatnya untuk memperbanyal senyum saudara kita yang menjajakan kudapan ifthar? Apakah niatnya menyenangkan kerabat atau saudara? Apakah untik menunjukka keunggulan status ekonomi? Apakah perilaku demikian menimbulkan efek negatif misalnya (meminjam istilahnya si VP) polarisasi finansial di sisi minus lantaran gravitasi pengeluaran membengkak? Apakah di saat kita berhampur ifthar eh di tempat lain masih gersang nasi dan lauk berbukanya? Begitu juga dengan lonjakan pembeli busana menjelang idul fitri yang heboh dengan diskonnya mendorong kita berbelanja busana melebihi rencana dan kebutuhan semula.

Fenomena yang mirip juga terjadi menyangkut perilaku berlebihan pada kebutuhan non-primer. Kita ternyata masih gampang untuk berboros ria terhadap segala kebutuhan yang sifatnya sekunder bahkan tersier. Definisi kebutuhan sekunder dan tersier meliputi di luar sandanag, pangan, dan papan. Dengan gempuran media sosial serta efek filter gawai menyebabkan banyak produk yang sebetulnya tidak terlalu dibutuhkan tapi malah dibeli. Sebagai contoh aksesori gawai yang tidak terkait konteks akdemik atau profesi, nongkrong-nonfkrong tidak produktif, hingga perabot yang sebetulnya sudah ada barang serupa.

Kalau menilik rukun puasa serta syarat sahnya puasa,memag perilaku berlebihan tidak membatalkan puasa. Tapi niat kitapuasa 'kan tidak cima "yang penting nggak batal". Harus ada hikmah yang dipetik, salah satu pola hidup sederhana yang efisien, tapi buka pelit garis keras lho ya. Apalagi kita perlu mengingat bahaya perilaku bemegah-megahan yang diulas pada At Takatsur.

Mari kita (terutama saya) introspeksi diri. Jika bisa menahan diri untik yang primer, mengapa tidak bisa menahan diri untuk yang lainnya?

Masjid Baiturrahman Kian Memesona [1]

Segarnya Ikan di Lamkaro

Agak aneh memang disebut sebagai piknik karena destinasi yang dituju adalah pasar ikan. Tapi, kami diajak jalan-jalan layaknya ke objek wisata. Terlalu hiperbola juga dengan hasil belnja yang hanya sekeranjang kecil. Tapi wisata bukan sekedar itu saja kok. Ada keunikan teesendiri mengamati suasana di sini. Ini bukan pertama kalinya saja mampir ke pasar ikan, sempat dulu di Cirebon, Ternate, dan tentunya Tegal. Namun ikan beeukuran sepanjang tubuh saya ya baru kali ini melihatnya sih.