Danke TI-40-11 and TI-40-IN

Blogger Tricks

Danke TI-40-11 and TI-40-IN

el Classico non Grata

El Classico memang punya daya pikat tersendiri. Barangkali ini menjadi laga on-derby terpanas di blantika sepakbola dengan berbagai faktor. Kebetulan memang kedua klub yang terlibat, Barcelona dan Real Madrid masih punya kepentingan di klasmen La Liga. Hal ini yang membuat el Classico kali ini masih menarik ditonton, bahkan dibandingkan Derby Milano yang keduanya tengah terancam gagal lolos [lagi] ke Eropa ataupun Derby Glasgow yang meempatkan Ranger terlalu inferior peringkatnya di hadapan Celtic. Sebagaimana biasa, aroma sarat makna el Classico memang 'dipercaya' manjur untuk melihat siapa yang menjadi penguasa La Liga di akhir musim, terlebih jika jarak diantara kedua klub itu relatif tipis. Barcelona di musim 2008-2009 tidak hanya mengangkangi Madrid di el Classico jilid II, tapi menyisakan taruma mendalam pada Madrid yang sebelum bercokol di pucuk klasmen. Mereka goyah dan akhirnya Barca sukses mengudeta Madrid. Musim lalu, Madrid sempat dicoret dari catur La Liga sebeleum el Classico jilid II. Nyatanya, skor 2-1 untuk mereka membuat Barcelona harus menunggu akhir musim untuk merengkuh trofi La Liga, itu pun harus dibantu 'fokusnya' Madrid ke Liga Champions.

Musim ini pun fenomena el Classico dipercaya bakal menentukan siapa yang tertawa di akhir musim. Madrid sempat berjarak 6 poin atas Barcelona, itu pun mereka masih surplus 1 pertandingan, artinya bisa jadi Madrid unggul 9 poin. Terlalu muluk berharap Madrid tersandung 3 kali. Tapi beruntungnya bagi Barca karena ada laga el Classico berupa lawatan ke kandang Madrid. Tapi jadwal justru menyiksa Barcelona yang kadung dipermak Juventus sehingga tersungkur dari Liga Champions. Belum pulih benar mental Barcelona, mereka harus melakoni el Classico menantang Real Madrid yang sedang membumbung mentalnya lantaran sukses lolos ke semifinal Liga Champions. Singkat cerita, Barcelona dalam kondisi tidka menguntungkan. Mental masih ambruk, laga tandang, plus tanpa Neymar si kontributor assist, plus tuntutan harus menang. Imbang artinya poin tetap 6, andai Madrid kecolongan di laga 'tabungan' itu. Kalau kalah, ya AhSudahlah.

Tapi hasil pertandingan memang di luar dugaan. Barcelona mencuri kemenangan dengan alur yang sangat dramatis. Marc Andre Ter-Stegen tampil heroik 12 penyelamatan serta gol di menit terakhir injury time. Benar-benar mencuri kemenangan, walau sebetulnya diantara Barcelona dan Madrid kalah di kandang masing-masing itu biasa. Ngomong-ngomong kata biasa, suguhan teror benturan fisik sangt diumbar di laga tersebut dengna klimaksnya sebuah kartu merah ke pemain yang rutin menerimanya. Dan kata 'biasa' juga sebetulnya patut dialamatkan pada Busquet, Sergi Roberto, dan Samuel Umtiti yang kembali ke penambilan 'biasa'-nya mereka, yaitu gemilang.

Barcelona sementara kembali ke singgasana, tapi masih dalam status darurat. Kemangan 7-1 Barcelona atas Osasuna direspo Madrid dengan menghajar Deportivo La Coruna 6-2. Masih ada 4 laga tersisa yang sangat kritis. Apalagi Madrid masih punya tabungan 1 pertandingan yang artinya ada peluang meraup poin tambahan. Walau demikian, andai kedua klub menuai poin sama, maka Barcelona relatif diuntungkan karena selisih gol yang relatif lebih baik dibandingkan Madrid.

Pilih Bahasa yang Mana

Era globalisasi memang sangat deras melanda dunia akademik dan dunia kerja. Tidak heran bila Bahasa Inggris menjadi kompetensi yang dianggap 'fardhu' di dua dunia tersebut. Saat saya SMP di kurun 2002 s.d. 2005, kesulitan berbahasa Inggris dianggap wajar, pun saat SMA. Malahan belum ada pelajaran Bahasa Inggris di lingkungan SD/MI. Bagi kuliah di rumpun teknologi informasi ataupun kerja di lingkungan digital/teknologi informasi, berbagai terminologi berbahasa Inggris malah lebih banyak berserakan. Saya tidak menganggap keharusan menguasai Bahasa Inggris sebagai pantangan. Tidak bisa kita beridealisme anti-bahasa asing karena ini era globalisasi. Hanya saja yang terjadi adalah literasi berbahasa mahasiswa ataupun paktisi industri yang kurang cermat dalam menggunakan masing-masing bahasa, ini masalahnya. Saya pun pernah dalam kondisi tersebut, bisa dibaca di artikel-artikel lama saya era 2009-an hingga 2012-an.

Sebagai pengajar, bagian dari ekosistem pendidikan, saya sering berada dalam situasi dilematis untuk menentukan bahasa pengantar pada bahan ajar serta penugasan. Di satu sisi, saya ingin mengajak mahasiswa belajar Bahasa Inggris, khususnya terkait kemampuan membaca dan menulis dalam Bahasa Inggris. Keduanya menjadi kompetensi yang sangat penting di era globalisasi saat ini. Toh, saat mereka berpapasan dengan skripsi pun mereka harus melahap berbagai referensi Bahasa Inggris. Singkat cerita, secara tidak langsung untuk lulus dari jenjang S1, mahasiswa wajib menguasai kemampuan berbahasa Inggris. Sebagai alumnus yang pernah/sedang menyelami dunia industri, saya merasakan sendiri bahwa kompetensi berbahasa Inggris menjadi sesuatu yang fundamental. Bagi yang terjun di dunia akademik, Bahasa Inggris menjadi keharusan kaena banyak agenda yang berkaitan dengan hal ini, misalnya penulisan makalah, penelaaha referensi untuk bahan ajar, hingga berburu beasiswa. Karena itulah, saat mengajar PSSI semester ini saya menyusun bahan ajar dalam Bahasa Inggris, pun dengan bahan evaluasi seperti UTS, UAS, dan kuis. Tapi saya mempersilakan mahasiswa menjawab dalam Bahasa Indonesia.

Untuk bahasa pengantar, tentu saya menggunakan Bahasa Indonesia, kecuali di kelas IN. Karena itulah, wajar jika mahasiswa di kelas saya sering heran kenapa saya lebih sering menggunakan jargon-jargon teknologi informasi dalam Bahasa Indonesia saat mengajar, misalnya kata 'unduh', 'tautan', 'peta jalan', 'tinjau'/'telaah', dan 'analisis kesenjangan', daripada 'download', 'link', 'roadmap', 'review', dan 'gap analysis'. Kebiasaan memprioritas Bahasa Indonesia dalam berkomunikasi didasarkan pada identitas kita sebagai Bangsa Indonesia, pemilik Bahasa Indonesia sekaligus penutur aslinya. Memang bagi sebagian orang, kesan kaku mungkin terbesit, apalagi jika komunikasi via surel/email, tapi bagi yang mengenal saya tentu tahu bagaimana saya tipe orang yang lebih senang hal-hal non-formal.

Saya berharap dengan memprioritaskan Bahasa Indonesia, kita bisa mempertahankan identitas kita. Kenyataannya saat ini, pelajaran Bahasa Indonesia menjadi momok menakutkan di Ujian Nasional. Ketika Matematika dan Bahasa Inggris ada kursus privatnya, maka tidak dengan Bahasa Indonesia, entah kenapa. 

Kerap pula saya menemukan mahasiswa yang penyampaian ide dalam Bahasa Indonesia perlu diperbaiki, saya tidak bilang dia jelek. Secara lisan, dia sudah bagus dan bisa membedakan mana yang Bahasa Indonesia, mana yang Bahasa Inggris. Tapi saat menuliskan, kerap istilah asing dibaurkan tanpa memperhatikan kaidahnya, seperti memiringkan istilah tersebut, memisahkan dengan tanda hubung jika dilengkapi imbuhan dalam Bahasa Indonesia. Artinya, segmen intelektual di dunia akademik perlu membenahi literasi berbahasanya, terutama Bahasa Indonesia.

Float Assumption

Asumsi merupakan bagian dari keterbatasan manusia. Keterbatasan yang kerap bersanding dengan kodrat manusia yang erat dengan salah dan khilaf. Sangat mungkin asumsi yang kita petik sebagai prediksi secara subjektif ternyata salah. Kita mengira nantinya sudah begini, kita menyangka nantinya sudah begitu. Dan yang terjadi patut diberi tagar #ahSudahlah.

Kesalahan estimasi karena keterbatasan asumsi kerap membebani kita, terlebih jika risikonya adalah merepotkan orang sekitar kita. Mungkin dalam jangka pendek, ujar-ujar pelipur lara sedikit meredakan kekecewaan. Tapi, untuk jangka panjang, rasanya tidak demikian.

Jika ditanya obatnya apa, tentu sujud adalah yang paling mujarab. Tapi, ini tidak ampuh bagi yang kurang peka dalam menyadari peran Allah selaku Maha sutradara di kehidupan ini. Awali setiap introspeksi diri dengan kesadaran bahwa kita ini kecil.

Review of SPIS 14th Session



Alhamdulilah Jumat dan Sabtu lalu, 21 dan 22 April 2017, sesi tatap muka materi PSSI telah usai. Agenda di sesi terakhir ii adalah tentang IS/IT Roadmap alias peta jalan SI/TI. Topik pamungkas ini  menjadi gerbang yang menjadi muara dalam akhir proses perencanaan strategis SI/TI bagi sebuah organisasi. Peta jalan menjadi petunjuk bagi sebuah organisasi untuk menyusun agenda apa saja yang dilakukan pada periode waktu tertentu. Lho bukannya sudah dilakukan analisis kesenjangan alias gap analysis ya...

Gambar 2. Ilustrasi tentang perbedaan analisis kesenjangan versus peta jalan

Memang ketika kita melakukan analisis kesenjangna, kita akan memperoleh banyak informasi mengenai apa-apa saja yang perlu dilakukan untuk mencapai target yang diharapkan. Permasalahannya, yang sudah didapatkan barulah daftar tindakan yang dibutuhkan. Bagaimana masing-masing tindakan tersebut dijalankan, itu belum terjawab. Penyusunan peta jalan menjadi wahana bagi sebuah organisasi untuk menata agenda, seringkali berupa penjadwalan, kapan saja tindakan-tindakan tersebut dilaksanakan. Singkat cerita, alur pikirnya dapat disimak pada Gambar 2 di atas. Contoh kasus sederhana bisa ditinjau pada Gambar 3 berikut.

Gambar 4. Studi kasus yang mengajar berpikir nalar terkait mana yang perlu diprioritaskan

Gambar 4. Faktor-faktor yang memengaruhi proses penyusunan peta jalan

Sepintas menyusun jadwal merupakan hal yag mudah. Tinggal mengira-kira tiap tindakan 'enaknya' ditaruh kapan saja. Hmmm, sepintas memang tinggal diplotkan dengan mudah. Kenyataannya tidak lho. Banyak faktor yang jadi pertimbangan dalam menyusun peta jalan. Muli dari masa jabatan si pengelola organisasi, masa berlaku renstra SI/TI-nya, target tahunan dari sisi bisnis, keterkaitan antar-tindakan, sumber daya yang tersedia, manajemen risiko, serta proses pemantauan dan evaluasi. Masing-masing pun sebetulnya tidak punya rumus eksak utuk menentukan mana yang ebnar-benar harus dikerjakan lebih dulu. Memang, di manajemen risiko ada perhitungan dampak x probabilitas, tapi hasilnya pun perlu divalidasi dari sisi logika dalam menjalankannya. Di sinilah seni manajemen kental. Barangkali dengan diskusi dan pengalaman yang semakin banyak, insyaAllah akan lebih nyaman dalam menentukan cara penyusunan yang lebih tepat.

Gambar 5. Cuplikan hasil pembuatan peta jalan SI/TI oleh saya dan pak Yudho, sifatnya masih in proposing hehee

Panorama Sisi Kiri Kereta Api JKT-BDG

Sudah hampir setahun saya rutin menggunakan moda kereta api untuk bolak-balik Bandung-Jakarta. Kota pertama terkait keluarga dan amanat ngedosen, sedangkan kota kedua terkait proyek dan amanat ngasdos. Memang sudah jadi hal yang lumrah, saya kerap tertidur ketika kendaraan mulai berangkat, entah itu mobil, bus, kereta api, kapal laut, hingga pesawat, kecuali motor karena kalau ngantuk risikonya celaka.

Nah, yang membuat saya menikmati perjalanan adalah panorama alam yang terhampar di kaca jendela kereta api. Dibandingkan naik bus atau mobil yang lewat tol, panorama alam justru lebih dekat dan lebih 'akrab' bila kita naik kereta api. Dulu ketika saya selalu memakai bus yang lewat tol, say melihat rel kereta api yang meliuk-liuk lewati bukit itu mengerikan. Tapi, saat saya sebagai penumpang kereta, saya justru melihat jalan tol dari arah samping ternyata 'ngeri ngeri sedap' juga, apalagi dengan suguhan pilar-pilar penyangga saat jalan tersebut 'mengambang' menyusuri bukit.

This Season will be Ended

Musim alias semester ini sebentar lagi usai. Sudah 3 kelas memasuki akhir sesi tatap muka dari total 5 kelas. Memang untuk kelas PSSI masih ada tugas online, tapi sebagaimana label yang saya singgung sebelumnya, sesi tatap muka sudah usai. Banyak pelajaran yang saya nikmati s.d. akhir perkuliahan ini. Dua yang paling utama, yaitu manajemen kebijaksanaan dan manajemen waktu.

Manajemen kebijaksanaan terkait banyaknya hal-hal di luar perkiraan, bisa dibilang masalah. Kenapa masalah, karena realitas berbeda ekspektasi, ini definisi menurut pak Riri Satria. Mulai dari mahasiswa kena musibah, mahasiswa studinya krisis, hingga mahasiswa berulah malas. Semuanya menuntut penyelesaian yang cepat namun matang. Saya berupaya menyikapi setiap masalah dari kacamata yang luas, dalam artian saya melihat sebab, kronologis, hingga dampak atas segala kemungkinan yang terjadi dari masalah tersebut. Kalau bahasa asingnya, 'case by case' alias dilihat per kasus, tidak bisa dipukul rata. Walau demikian, saya harus dan insyaAllah tetap menjaga objektivitas dari setiap penanganan yang saya ambil dan mematuhi regulasi institusi yang berlaku.

Kedua, terkait manajeme waktu. Dari tiga mata kuliah yang saya ampu, banyak tugas yang bertebaran. Hal ini berdampak pada perlunya waktu 'khusus' untuk meninjau dan memberi skor atas tugas yang saya berikan. Tentu tidak mudah karena saya perlu mempertimbangkan sejauh mana mahasiswa bisa membuktikan kesungguhan dan pemahaman atas materi yang diberikan dan diujikan terkait tugas tersebut. Dan tak lupa pula saya perlu membandingkan kelayakan skor yang diberikan kepada sebuah kelompok/individu tertentu dengan kelompok/individu lainnya. Tujuannya agar objektivitas dan keadilan terjaga.

Harus diakui, sebagai kali kedua, semester ini saya mulai menemukan ritme dan trik dalam megelola waktu. Semoga ini bermanfaat untuk 'petualangan' di semester depan. Hmm, entah apakah memang semester depan saya masih diberi kesempata mengajar lagi atau tidak.

Treble: Tinggal Juventus dan Monaco

4 klub di Liga Champions Eropa/UCL serta 4 klub di Liga Eropa/EL, merekalah 8 klub yang masih berkesempatan mengadu nasib menjadi penguasa benua biru. Bukan perkara mudah karena mereka harus melalui perjuangan yang keras untuk menyingkirkan klub-klub lain yang mungkin lebih ambisius. Kota Madrid sudah memastikan diri tampil di final setelah dua klub asal kota ini, Atletico dan Real, bersua di semi-final. Derby yang keempat kali secara beruntun ini tentu menarik. Di sisi lain, AS Monaco dan Juventus bakal bentrok. Di atas kertas pemenang trofi UCL musim memiliki warna putih, hehee, ya iyalah kan Real Madrid putih total, Juventus putih-hitam, sedangkan Atletico dan Monaco merah-putih. Di ajang lainnya, Ajax Amsterdam yang nyaris gagal lolos bakal menjadi Lyon untuk menentukan siapa yang bakal menantang pemenang antara Manchester United vs Celta Vigo.

Menariknya dari 8 klub tersebut, hanya Juventus dan Monaco yang masih menaruh peluang mencaplok treble alias tiga trofi di penghujung musim. Juventus masih bertengger di klasmen Serie A tanpa halangan berarti dari Napoli, Roma, serta Lazio. Klub yang disebut terakhir pun menjadi lawan tunggal di ajang Copa Italia yang memasuki fase final. Monaco barangkali lebih terjal karena mereka masih dibayang-bayangi PSG di dua ajang, yaitu Ligue 1 serta Coupe de France. Ajang pertama menampatkan mereka tengah beradu poin yang sama, sedangkan di ajang kedua mereka berpapasan di babak semifinal.

sumber gambar ESPN
Monaco, salah satu calon peraih treble musim ini

Jika di masing-masing kompetisi domestik mereka lancar, artinya semifinal ini bakal menjadi ajang untuk mengeliminasi salah satu klub meraih treble. Tentunya bisa jadi yang lolos ke final pun mungkin saja digilas delegasi dari kota Madrid. Menariknya, AS Monaco di Ligue 1 tercatat sebagai klub paling tajam nomor 2 di Eropa setelah Barcelona, bahkan melebihi Bayern Muenchen di Bundesliga maupun Real Madrid di La Liga. Mereka bakal berjumpa klub dengan pertahanan yang ketat. Ya Juventus merupakan klub dengan pertahanan terbaik nomor 2 setelah Muenchen. Tapi jangan lupa bahwa Juventus adalah klub yang memaksa FC Barcelona 'mandul'. Ya, Barca tidak mencetak satu gol pun ke gawang Juventus. Padahal sebagai sempat disinggung sebelumnya, Barca merupakan satu-satunya klub yag hingga saat ini lebih tajam daripada Monaco di liga domestik masing-masing.

Review Boss Baby

Memang, minat saya nonton film ini timbul selaku korban iklan berupa cuplikan film lain sebetul meonton film Power Ranger. Sepintas film ini menawarkan kegokilan yang sangat menghibur, apalagi temanya adalah balita. Topik yang menarik karena saya dan istri sedang menikmati peran ayah dan ibu yang baru setahun. Bahkan istri saya pun langsung tertarik untuk menontonnya begitu saya paparkan eksistensi film ini. Setelah sempat menjadi wacana, akhirnya kami sukses nonton film ini kemarin, 19/4 di Bandung.

Tebakan saya tidak salah. Film ini sangat menjejali penontonnya dengan imajinasi yang penuh hiburan. Mulai dari proses kemunculan bayi yang menganut konsep manufaktur, konsep mata-mata, perang antar-anak-anak, hingga 'pretelan' lelucon ringan yang membuat kita terpingkal-pingkal. Singkat cerita, film ini berkisah tentang seorang bayi yang 'diutus' oleh sebuah korporasi untuk mencari informasi tentang sebuah proyek yang kabarnya berpotensi membuat orang tua tidak lagi cinta pada bayinya. Konflik, lebih tepatnya perang, antara si bayi dibantu koalisinya versus si kakak sulung menjadi fragmen yang sangat menarik. Lebih menarik karena setelah konflik 'koplak', keduanya malahan berkoalisi untuk sebuah misi rahasia yang sangat hiperbolik.

Jangan lupakan nilai moral tentang bagaimana orang tua seharusnya bersikap adil pada anak-anak mereka. Karena itulah, anak-anak yang meonton film ini sebaiknya ditemani orang tuanya agar tidak terjadi salah paham atas konflik tersebut, plus penjelasan tentang 'pabrik bayi' tersebut. Keseluruhan film ini layak ditonton, termasuk segeman usia 5 s.d. 13 tahun.